“Ketimbang barang-barang bekas itu tidak terpakai dan mubazir, lebih baik diuangkan atau disumbangkan pada mereka yang membutuhkan.” -Mas Redjo
Hal itu baru terpikir oleh saya, ketika seorang aktivis Asak, “ayo Sekolah, ayo Kuliah” mampir ke rumah. Ia meminta kesediaan saya untuk bergabung, jadi orangtua asuh atau mencarikannya, karena relasi bisnis saya cukup banyak.
Saat hendak ke kamar mandi ia melewati gudang saya yang dipenuhi barang yang teronggok dan tidak terpakai. Lalu dengan sopan ia menanyakannya.
“Sayang sekali, padahal bisa kita uangkan untuk membantu mereka,” kata Pak HS hati-hati.
“Silakan, jika berkenan dan mau,” saya mengiyakan. Saya sadar, barang-barang itu sudah cukup lama teronggok di gudang. Sedang anak-anak yang beranjak dewasa itu tidak membutuhkan lagi.
Dari Pak HS, saya belajar untuk memahami barang-barang yang tampak sepele, tapi mempunyai nilai keekonomian, dan bermanfaat bagi orang lain. Pengalamannya itu seperti yang terjadi pada keluarga saya, yakni menyimpan makanan di kulkas, karena anak-anak sibuk bekerja, dan makannya pilih-pilih. Lebih baik masak dikurangi atau membeli secukupnya. Ketimbang makanan itu disimpan di kulkas, sia-sia dan mubazir. Lebih baik itu itit dan selisih uang masak itu disumbangkan untuk mereka membutuhkan.
“Saya merasakan sekali, pas butuh dana, rezeki itu datang tidak terduga, dan di luar nalar,” Pak HS mensyeringkan pengalamannya. Meski telah pensiun, tapi ia aktif jadi agen suatu asuransi ternama.
“Saya juga mengalami hal serupa. Ketika melayani sesama ikhlas hati, pintu rezeki itu dibukakan.”
“Ya, selalu ada solusi bagi kita yang percaya dan mengimani-Nya dengan rendah hati,” tandas Pak HS.
Saya mengangguk takzim, karena hati ini terharu.
Mas Redjo

