| Red-Joss.com | Selama masih ada waktu dan harapan, jangan menyerah untuk kalah. Karena pribadi yang mudah menyerah itu bukti orang yang kecewa, putus asa, dan lemah iman.
Selama jantung ini berdetak berarti kita masih mempunyai kesempatan dan peluang untuk jadi pemenang.
Selalu ada harapan, iman, dan kasih. Pejuang sejati itu pantang menyerah hingga pertandingan itu berakhir!
Motivasi, memotivasi diri adalah api semangat yang harus dijaga agar nyalanya tidak padam.
Terpampang jelas dalam ingatanku, ketika aku remaja jadi pemain bola di sekolah. Meski telah ketinggalan 2 gol, tapi aku terus memotivasi teman-teman untuk tidak menyerah hingga peluit terakhir. Jikapun kalah juga harus secara terhormat.
Semangat ngotot untuk berjuang pantang menyerah itu pula yang menghantarkan aku dan teman-teman mencapai kemenangan demi kemenangan. Bahkan tidak jarang membalikkan prediksi di depan mata, dari imposible berubah jadi posible.
Begitu pula saat hubunganku dan doi ditentang oleh Pakdhe dan Budhenya. Karena sejak kecil doi ikut mereka, dan dianggap seperti anak sendiri. Bahkan doi pernah dicalonkan dengan anak teman Pakdhe yang lulusan luar negeri. Tapi aku pantang menyerah sebelum ada janur kuning yang melengkung. Aku lalu mendekati orangtuanya yang berada di luar kota. Bahkan aku berani untuk melamar langsung doi dengan meminta restu orangtuanya, dan disetujui.
Selalu ada harapan dan optimisme itu yang membuat aku semangat dalam menjalani hidup ini.
Target demi target dalam hidup ini harus aku wujudkan agar hidupku terarah dan fokus pada tujuan yang hendak dicapai.
Karena semangat optimisme itu pula yang membuat aku sesaat terperangah tidak percaya, ketika aku divonis dokter mengindap kanker hati. Padahal aku selalu menjaga pola makan sehat dan olahraga. Juga secara berkala aku memeriksakan kesehatan untuk ‘general check up’. Tapi kanker hati?
Beruntung dan bersyukur itu yang aku jalani, tanpa mencoba mencari atau menyalahkan siapa pun. Juga, karena penyakit itu cepat terdeteksi untuk diantisipasi dan diobati. Aku percaya, bahwa Tuhan mempunyai rencana yang terbaik dan terindah dalam hidupku.
Beruntung pula, karena aku mempunyai asurasi kesehatan, sehingga biaya pengobatan ditanggung. Tapi, siapa yang mau sakit?
Karena sakit itu pula hubunganku dengan keluarga makin dekat dan akrab. Juga dengan Allah yang anugerahi hidup ini.
Ke luar masuk rumah sakit, aku jalani dan nikmati tanpa keluhan dan beban, tapi dengan pujian dan syukur kepada Allah.
Hati yang gembira adalah obat yang cespleng. Ekaristi Kudus adalah penyembuh segala penyakit yang luar biasa.
Selalu terus berupaya untuk sembuh dan berserah ikhlas adalah menu harianku.
Taat dan setia pada kehendak Allah adalah sikap hidupku untuk selalu berbagi hal-hal baik dan positif pada sesama.
Kini, jika Allah memanggilku, aku selalu siap sedia, karena aku milik-Nya.
Jika Allah menghendaki aku sehat, maka aku akan sembuh. Dalam nama Yesus ada kuasa.
“Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.”
Berkah Dalem.
…
Mas Redjo

