Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Sekolah bukan sekadar sekolah binatang yang membuat burung beo membeo dan kambing dipaksa terbang.”
(Edu Dosi)
…
| Red-Joss.com | Sungguh, ternyata, betapa morat-maritnya “sistem pendidikan dan model kurikulum” yang telah diterapkan di negeri kita ini.
Sampai-sampai ada selentingan abadi, ‘apa sih, sejatinya sistem pendidikan yang dianut di negeri kita ini?’ Semua terkesan ngawur dan tidak jelas!
Ada juga selentingan lain, ‘ganti menteri, ganti kurikulum.’ Kurikulum yang ada, belum sepenuhnya diterapkan, kini sudah mau diganti lagi oleh rezim baru!
Berikut ini, ada ilustrasi menarik! Suatu hari, singa, harimau, gajah, dan jenis binatang lainnya berkumpul. Mereka berkumpul dan merencanakan untuk mendirikan sebuah sekolah.
Mereka sepakat akan menggunakan “kurikulum yang serba seragam.” Ada pelajaran terbang, berlari, berenang, memanjat, dan juga omong-omong.
Semua murid wajib memperoleh pendidikan yang sama.
Kini tiba saatnya. Tahun ajaran baru dimulai. Ternyata, anak kambing sangat mengeluh, karena dia, ternyata tidak bisa terbang. Anak singa pun, ternyata tidak mampu meringkik, serta anak kuda pun tak mampu mengaum.
Pada akhir tahun sekolah, apa yang terjadi? Para murid pun mengeluh, karena mereka merasa tidak bahagia. Bahkan, anak kambing, kakinya patah karena terjatuh saat mau belajar terbang. Anak kuda pun tidak pernah mampu untuk mengaum hingga menjelang akhir tahun sekolah.
(Asal Omong, Edu Dosi).
Inilah model pendekatan pendidikan yang sia-sia. Inilah juga model pendidikan yang serba menyeragamkan. Model kurikulum yang tidak memperhatikan bakat minat personal murid, dan merampok hak-hak personal para murid.
Di dalam konteks yang semrawut dan serba seragam ini, ternyata sudah sangat berseberangan dengan prinsip dasar pendidikan, yaitu ‘proses pengembangan sumber daya manusia (SDM), seutuhnya.’
Apa yang kini terjadi dan apa yang sudah terjadi? Dampaknya, bahwa pendekatan pendidikan kita, ibarat berselancar di atas arus ombak laut. Yang meluncur ke kiri dan ke kanan, serta melompat dan menurun hanya sesuai gerak arus gelombang.
Maka, sungguh benar, apa yang dikatakan para pejuang pendidikan yang membebaskan, bahwa inilah sistem “pendidikan yang hanya menghasilkan air mata.”
…
Kediri, 7 Desember 2023

