Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Orang harus memberi
sesuatu kepada hati
manusia, dan bukan
kepada tangannya.”
(Didaktika Hidup Sadar)
Tulus dan Tepat Sasarankah Pemberian Kita?
Sudah betapa seringnya kita mengadakan aksi sosial sebagai ungkapan hati lewat sikap solidaritas “berbela rasa” dengan cara sibuk mengumpulkan barang-barang berupa apa pun untuk diberikan kepada kaum miskin.
Tapi pernahkah kita bertanya kepada kaum miskin, “Suka dan berkenankah saudara-saudari atas pemberian ini?” Apakah pemberian itu sungguh berkenan dan sangat dibutuhkan oleh mereka? Ataukah pemberian itu, jangan-jangan hanyalah sebagai sebentuk tradisi belaka yang justru berdampak akan kian terpojok dan hanya seolah-olah mau menenteng kemiskinan mereka? Kita justru merasa berada di posisi sebagai sang donatur yang berbelas kasih? Juga di sisi lain, jika pemberian itu ternyata tidak tepat sasaran?
Setangkai Mawar
Sang penyair Rainer Maria Rilke sangat suka bersantai dengan cara berjalan-jalan. Tidak jarang dia melihat seorang peminta-minta.
Orang-orang yang berseliweran di jalan biasanya meletakkan sekeping koin ke dalam sebuah cangkir yang tergeletak di depannya.
Tapi ada satu hal yang menimbulkan tanda tanya besar di dada penyair itu ialah, mengapa pengemis itu tidak pernah memperlihatkan ekspresi berterima kasih?
Di suatu petang penyair itu kembali bersantai bersama seorang temannya. Saat keduanya melewati tempat mangkal si pengemis, ternyata Rainer tidak memberikan apa pun. Saat itu, kawan seperjalanannya merasa sangat heran, lalu bertanya, “Mengapa Anda tidak memberikan sesuatu kepada si miskin itu?”
Jawab Rainer, “Orang-orang seharusnya memberikan sesuatu kepada hatinya, dan bukan kepada tangannya.”
Beberapa hari berselang, keduanya kembali bersantai melewati tempat yang sama. Di saat itu Rainer justru membeli setangkai mawar merah. Apa yang dilakukannya? Dengan penuh rasa hormat diletakkannya bunga mawar itu ke telapak tangan si pengemis itu.
Ternyata alangkah kaget dan terperanjatnya pengemis itu. Dia segera bangkit berdiri sambil meraih dan mencium tangan Rainer. Sambil mendekatkan bunga mawar merah itu ke dada dukanya, lalu pergi dan segera menghilang.
Si pengemis itu ternyata baru kembali muncul setelah sepekan.
Maka, bertanyalah sahabat Rainer itu, “Selama sepekan, dia tidak duduk untuk meminta-minta, dan menurutmu dari mana dia mendapat nafkah?”
“Dia hidup dari setangkai bunga mawar merah itu” jawab Rainer.
(Willi Hoffsuemmer)
Segelas Susu
Memberi kepada Hati, Bukan kepada Tangan
Sungguh, manusia itu adalah ciptaan yang termulia. Karena selain sebagai makhluk yang berakal budi, dia l memiliki sekeping hati. Bukankah, betapa luas dan dalamnya isi hati manusia itu. Juga bukankah hati ini sebagai pusat kesadaran seorang anak manusia?
Ternyata setangkai bunga mawar merah segar itu telah mampu meluluhkan kedalaman hatinya. Dia akhirnya dapat bertekuk lutut di hadapan ketulusan hati sang pemberi.
Kini sadarlah kita, sesungguhnya, suatu pemberian yang tepat sasaran dan yang berkenan di hati manusia adalah suatu pemberian yang lahir dari ketulusan, sehingga sanggup menggetarkan dada batin di penerima pemberian itu.
Hati Manusia Tidak Sudi Dibohongi
Jika memang demikian adanya, maka sadarlah kita, bahwa sejatinya sekeping hati itu tak sudi mau dibohongi.
Kepalamu itu bisa dibohongi, namun tidak demikian dengan sekeping hatimu!
Sungguh, betapa luas dan dalamnya kualitas hati manusia!
…
Kediri, 15 Februari 2025

