Red-Joss.com – Sekecil apa pun pekerjaan atau proyek yang kita peroleh itu harus
disyukuri dengan ikhlas hati agar rejeki itu jadi berkah. Tidak seharusnya kita memanfaatkan proyek itu demi keuntungan pribadi.
Kenyataannya, tidak banyak orang yang peka, sadar diri, dan mampu melihat anugerah itu.
Ada orang yang mengerjakan job kecil atau yang remeh temeh itu dengan setengah hati, alias malas-malasan. Tapi ada juga orang yang memanfaatkan kesempatan itu untuk bekerja dengan baik dan komitmen agar orang yang memberi job itu tidak kecewa. Dengan harapan, pekerjaan itu bakal memanjang atau memperoleh job yang lain lagi.
Seharusnya, hal itu yang dilakukan oleh teman anak saya. Apalagi di saat pandemi panjang dan ekonomi sulit. Memperoleh job kerja itu ibarat oase segar di padang gurun. Ia tidak memanfaatkan hal itu dengan baik. Sebaliknya ia menggunakan aji mumpung. Diberi hati malah merogoh rempelo.
Awalnya saya memberi proyek ke teman anak untuk membuat intalasi air panas, menggali sumur baru, merapikan got, dan menaikkan daya listrik.
Teman anak saya itu seharusnya bersyukur, karena memperoleh pekerjaan. Sebaliknya malah membuat saya tersungkur.
Bagaimana tidak. Semula ia minta fee 10% dari pembelian material dan tenaga kerja. Faktanya, di perincian akhir kerja ditulis ongkos transpor Rp 20.000 per karyawan.
Tidak masuk akal lagi adalah, ia minta biaya mendatangkan karyawan dari Jawa dan minta ongkos (menjemput) naik taksi. Padahal mereka anak buahnya.
Kekurangtelitian, dan itu kesalahan saya, adalah saya amat percaya ia teman anak. Sehingga nilai tagihan itu langsung saya transfer. Tanpa saya cek dengan teliti lebih dulu.
Ketika hal itu saya sampaikan pada anak, ia diam dan merasa malu. Sedang istri meminta agar saya ikhlas dan melihat kualitas kejujuran teman anak.
Tiba-tiba saja jadi ingat sahabat Hidayat yang usaha kerupuk.
“Jika dicubit itu sakit, ya, kita jangan mencubit. Ketika disakiti, kita tidak perlu membalas, tapi memaafkan dan mendoakan agar hati ini tidak terluka sendiri.”
Ya, tidak seharusnya saya asal percaya. Ngono yo ngono, yang penting saya selalu ‘eling lan waspada’ dan bijaksana.
…
Mas Redjo

