Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Segelas air tidak hanya sebagai pemuas dahaga badani, tapi juga sebagai pemuas dahaga jiwa.”
(Didaktika Hidup Rohani)
Kesatuan Jiwa dan Badan
Manusia adalah makhluk hidup yang terdiri dari jiwa dan badan. Namun keduanya merupakan satu kesatuan utuh total, dan bukan sebagai dualisme.
Sekalipun badan manusia secara fisik biologis dapat binasa, namun jiwa manusia senantia tetap tinggal abadi.
Makna Simbol dari Segelas Air
- Secara simbolis, segelas air tidak saja disimbolkan sebagai pemuas dahaga secara jasmani. Namun juga sebagai pemuas dahaga bagi jiwa manusia.
- Bahkan segelas air pun menyimbolkan kerinduan letih jiwa sang manusia.
- Masih ingatkah pada sendunya sepenggal madah agung, “Laksana rusa mendambakan air, demikian rindunya jiwaku padamu Tuhan.”
- Juga pada indahnya kerinduan hati pujangga sejati, Santo Agustinus, “Tuhan, hatiku tidaklah tenteram, sebelum jiwaku berlabuh pada teduhnya dermaga suci-Mu.”
Kita adalah Segelas Air
Secara rohani spiritual kita adalah segelas air: selaku pemuas dahaga dari letih jiwa. Kita laksana segelas air juga bagi siapa pun yang membutuhkan kedamain jiwa, mereka yang merindukan ketenteraman hati, dan pemuas dahaga bagi sang rindu jiwa.
Akulah Air Hidup
Yesus Kristus, Sang Guru Agung kita bersabda, “Akulah air hidup, barang siapa minum, ia tak akan pernah haus lagi.”
Sebuah stateman simbolis yang dapat melambangkan, bahwa sungguh, betapa bermaknanya setetes air sebagai pemuas letih serta dahaga jiwa manusia.
“Tuhan, berikan daku segelas air,” demikian seruan seseorang tatkala ia sedang melintasi kerontangnya padang gurun kehidupan rohani.
“Darah dan air yang mengalir dari lambung Sang Kebaikan serta Kebenaran sejati, itulah sang pemuas sejati bagi dahaga jiwa!
“Aku haus!”
Wolotopo, Ende, 7 Juni 2025

