Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Tuhan, berikan aku segelas air.”
(Simbolisasi dari Kehausan Sejati)
…
Air. Air… Ya, air! Apakah Anda sungguh mengenal air? Pernahkah Anda mendapatkan kepuasan sejati dari segelas air?
Ilustrasi Simbolisasi
Ada orang yang sedang diseret arus banjir deras. Sementara itu, si malang itu sambil mengangkat tangan kanannya yang dengan sangat erat menggenggam sebuah gelas kosong. Ia dengan lantang berteriak, “Tuhanku, sudilah memberikan daku segelas air!”
Sungguh, bukankah kisah ini mau menyimbolkan sebuah ironi hidup? Karena bagaimana mungkin, orang yang sedang terendam dan terseret arus deras banjir, tapi berteriak meminta segelas air? Mengapa ia tidak mencedok air nan melimpah itu ke dalam gelas kosongnya itu?
“Tuhanku, berikan daku segelas air!”
Saya dan Anda tidak jarang telah meneriakkan seruan serupa itu, hanya mungkin dalam sikon yang berbeda.
Pernahkah Anda melihat dan mengetahui orang yang justru kelaparan di saat dia sedang membagikan jatah makanan bagi para pengungsi?
Aneka Segelas Air
Ketahui, setiap saat dan di setiap waktu, selalu ada orang-orang yang berteriak meminta segelas air. Ada segelas air berupa kasih sayang. Segelas air berupa keadilan dan cinta. Atau segelas air berupa permohonan maaf dan ampunan. Akankah teriakan itu didengarkan?
Pedih dan sungguh perih lubuk nurani kita di saat menghadapi realitas yang ironis serta serba kontradiktif ini. Ketahuilah, sejatinya kisah memilukan hati ini, justru selalu ada, hadir, dan bahkan selalu mewarnai realitas hidup kita di bumi maya ini.
Setiap Orang juga Meminta Segelas Air
- Seorang Petinggi keagamaan yang dengan lantang memohon segelas air, berupa sikap adil dari Pemerintah setempat terhadap rakyat jelata.
- Ketua Yayasan Pendidikan Swasta yang meminta segelas air keadilan, saat berlangsungnya proses PPDB di wilayahnya.
- Ratusan, ribuan, bahkan jutaan Guru honorer yang lantang meminta segelas air keadilan, di saat proses penjaringan untuk jadi Guru negeri.
- Seorang karyawan yang meminta segelas air, berupa kenaikan gaji bulanan.
Tikus Mati di Dalam Lumbung Padi
Memang sungguh ironis, jika Anda dan saya mau bersungguh-sungguh untuk merefleksikan makna sejati dari teriakan orang yang diseret arus banjir itu.
Bukankah hidup kita ini merupakan sebuah ironi juga? Bahkan tidak jarang jadi serba kontradiktif!
Realitas Hidup Kita
Bukankah hidup ini ibarat orang yang mengarungi aliran arus zaman?
Terkesan kita sedang asyik berenang di dalam arus hidup kemewahan, namun sejatinya, itu hanyalah kulit luar.
Terkesan gaya hidup kita bagaikan orang berduit, namun nyatanya, hidup hanya ibarat menggali dan menutup lubang.
Terkesan kita adalah pribadi yang tulus, jujur, dan rendah hati, tapi nyatanya, kita hanyalah penjilat berkelas kakap.
Di suatu siang bolong, tampak seseorang yang memegang lenteran bernyala, ia sedang asyik mencari…
“Begitukah cara kita hidup?”
…
Kediri, 23 November 2024

