| Red-Joss.com | Tak lebih dari dua bulan lagi, Paus, Gembala Gereja dan Dunia, akan rawuh ke Indonesia. Untuk rawuh Dalem itu, ingin kutagih apa yang di awal kepausannya dulu, 2013, meniupkan asa baru untuk Gereja, seperti bunyi Mazmur 23: 3a: “Ia Menyegarkan Jiwaku.”
Lewat nota apostolik yang pertama, 2013, Evangilii Gaudium, yang artinya Sukacita Injil, Gembala Gereja, Paus Fransiskus memberi arah yang sangat menantang kepada setiap orang Katolik agar berani merubah diri sebagai gereja di era ini. Paus menuntun sekaligus menuntut melalui sikap menantang sebagai berikut:
“Saya lebih memilih Gereja yang ‘memar’, ‘luka’, dan ‘kotor’, karena berada di jalanan daripada Gereja yang tidak sehat, karena terkurung dan bergantung pada rasa aman, dan nyamannya sendiri.”
Paus mengajak tiap orang Katolik untuk siuman dari menggereja yang eksklusif, terkurung dan terpagari dengan keindahan dan kemegahan lahiriah. Yang hari-harinya dipenuhi oleh upaya tak henti melengkapi pernak-pernik duniawinya.
Ajakan Paus itu senada dengan teori (Thomas Kuhn) tentang Tuhan. Gereja harus menjadi tanda, bahwa Tuhan adalah Tuhan yang selalu hadir, terutama saat manusia menderita atau tertimpa musibah. Tuhan yang mampu menggerakkan orang untuk menolong sesama yang menderita. Tuhan tidak diam pasif, tapi berada di samping orang yang tertimpa musibah. Tuhan yang solider dan mempunyai empati terhadap orang yang sedang menderita. Menurut Paus, hanya Gereja yang rela memar, luka dan kotor, karena berada di jalanan (tidak berada dalam gedung megah berpagar rasa aman dan nyaman diri), yang akan mudah jadi tanda Allah yang hadir dan solider dengan manusia menderita.
Segarkanlah jiwaku, ya, Allah (Maz 23: 3a).
Salam sehat berlimpah berkat.
…
Jlitheng

