Simply da Flores
Ada lampu lalu lintas terpasang
merah hijau dan kuning
Petugas jalan pun biasa hadir
ada juga teknologi canggih pemantau
Semua demi menjamin keselamatan masyarakat
Namun,
Entah kenapa bisa terjadi
banyak perilaku aneh misteri
Ada yang tak peduli lampu lalu lintas
Ada yang melawan arah jalan
Ada yang menyebrang sesukanya
Ada yang berjualan di trotoar
Ada banyak pengamen dan pengemis
Ada lagu kehidupan bergaung
tentang perbedaan kelas sosial
tentang mahalnya waktu dan upah
tentang kebutuhan yang tak bisa ditunda
tentang aturan yang tak dipedulikan
tentang petugas yang tak bisa tegas
tentang budaya dan mentalitas
tentang nilai dan prinsip pribadi
tentang sampah plastik menari
Semua bertemu di perempatan kota
tak peduli waktu siang dan malam
Duduk menepi di bangku trotoar
sering berkelahi aneka tanya
Mengapa di Ibukota begini faktanya
Apakah yang jadi sumber persoalannya
Dan
deru debu terus mengembara
berkelahi dengan polusi asap selera
dalam roda zaman penuh pesona
mencakar nasib jiwa raga manusia
Gedung mewah menghiasi jalanan utama
entah kantor swasta atau pejabat negara
entah pertokoan mewah atau hunian orang kaya
Semuanya berbeda dengan nasib para buruh
Berlainan dengan kidung pemulung, pengemis dan pengamen
Mungkin seperti perumahan elit dengan hunian kumuh kolong jembatan
Inikah isi lagu tempo doeloe
“Dunia ini panggung sandiwara”
Atau teori piramida sosial dan hirarki kelas manusia?
Deru debu Metropolitan berkelahi
melawan sampah dan aneka polusi
Lagu ratapan nasib melawan kuasa sistem operasi
Mungkin ada sosok misterius sakti
yang tak terlihat dan terdeteksi
memproduksi kata dan angka
sambil berpesta selera kuasa
Mungkin dari gedung megah kota ini
ada laskar gaib bertopeng seribu
yang mengendalikan warga dan alam negeri
karena miliki harta kuasa dan iptek
Mengatur irama lagu dan peran sandiwara

