Simply da Flores
Sang Opa rambut putih terurai menggesek biola
nada nostalgia menggema mengetuk sanubari
melintas waktu antar generasi
Ziarah pribadi menemukan makna sejati
apakah hakikat kodrati diri pribadi
Sang Oma yang
dibalut sahaja senyum bijak
melukis denting irama di wajah piano
dengan warna memori zamannya
Kisah fakta yang hampir terlupakan
menghalau sekat ruang suku bangsa dan melintas batas
Kelana jiwa raga senandung tulus
Pribadi seorang ibu bagi anak cucu kehidupan
Pasangan seniman biola dan piano
membuka kenangan sejarah pribadi
dalam irama rasa dan melodi jiwa
Tentang potret kehancuran jiwa raga
yang terpatri di Hiroshima
Fakta keterasingan manusia dari cinta
Remah jati diri dalam roda semesta
Puing debu di telapak Pencipta
Perang tak pernah hasilkan damai cinta
Sepasang Opa Oma dari Jepang
merekam hikmah sejarah peradaban
tragedi bom atom di Hiroshima
dalam perjalanan cinta pribadi
di atas lembaran sejarah peradaban insani
dalam nada irama hati sanubari
agar ingatkan dunia dan segenap generasi
agar tidak lupakan hakikat jati diri
dengan gemerlap iptek yang bergengsi
demi puaskan nafsu birahi
Dialog dawai dan tuts piano
perpaduan jiwa raga dua pribadi
membawa pendengar saksikan fakta sejarah
tentang keganasan perang antar bangsa
tentang serpihan kemanusiaan dan kerinduan sejati
tentang hakikat cinta dan harmoni
tentang putusnya relasi jasmani dan rohani
tentang merusak alam dan lupakan Pencipta
dalam sejarah kelana di bumi ini
Kekuatan nada harapan dan melodi cinta
telah satukan irama ziarah pribadi
Mereka menulis irama kehidupan
mereka memainkan alunan suka duka
Dari puing kehancuran menyongsong matahari
dari air mata lara menjadi lagu rindu damai cinta
Tentang harkat martabat insani dan Ilahi
yang terlahir dari kasih sayang untuk membawa damai
Di panggung kehidupan zaman milenial
Sepasang Opa Oma dari Hiroshima
alunkan nada hati nurani cinta
senandungkan irama lagu jiwa raga
dengan gesekan dawai biola dan denting dawai piano
Dari puncak langit Perang Dunia II
untuk jiwa raga generasi digital milenial
Tentang keganasan perang karena kehancuran jiwa raga
Manusia tercipta bukan untuk iri dengki
tetapi membagi kasih persaudaraan sejati
Setiap pribadi selalu lapar cinta hakiki
Jiwa raga manusia tetap dahaga kasih sayang kodrati dan persaudaraan asali

