Simply da Flores
Meraih Makna Jumat Agung
1.
Aku datang pada Salib-Mu itu
Lalu membaca tulisan yang ada
INRI – Iesu Nazaremus Rex Judeorum
Katanya ini penjelasan sosok yang disalibkan
Yesus orang Nazareth – Raja Orang Yahudi
Dan
aku kagum serta ingin tambahkan tulisan ku…
2.
Kutulis di belakang salib-Mu itu,
karena di depannya ada jenazah-Mu Yesus
Yang dihukum sebagai penjahat
Dengan kebodohan kutuliskan
“Jesus telah tersalib dan wafat
Inilah fakta sejarah
Inilah paradoks peradaban
Inilah misteri sepanjang sejarah”
Lalu, kupaku pada bagian atas salib-Mu
3.
Pada palang salib itu
aku beranikan diri menulis lagi
“Jesus tersalib adalah Alfa dan Omega
Sengsara dan wafat di salib ini
adalah jawaban atas misteri Taman Firdaus
Sabda Sang Pencipta jadi daging
hadirkan fakta Mahakasih Ilahi
fakta paradoks Mahacinta abadi
bukti Maharahim dan Mahamisteri”
Hanya iman yang menolong budi
indra dan nalar manusia tidak mencukupi
4.
Pada bagian bawah palang salib-Mu
Aku menulis lagi catatan berikut
“Hanya Iman, Pengharapan dan Kasih
untuk bisa memikul salib pribadi
untuk mampu mengikuti-Mu Yesus
untuk mendapatkan rahmat sengsara, darah dan luka Yesus
untuk memperoleh berkat penebusan dari wafat dan kebangkitan-Mu”
5.
Setelah menuliskan semuanya
Aku berlutut dan menulis pada debu tanah
di pelataran sanubari jiwaku
“Aku, engkau,
kita semua manusia
Entah yang percaya maupun yang menolak Yesus
Tak mampu tawarkan asinnya samudra kerahiman-Nya
hanya dengan air ludah atau segelas air putih
Sehebat apa pun manusia sepanjang sejarah peradaban
tak mampu hentikan cahaya sinar surya dari angkasa
dan hidup tanpa alam lingkungan di semesta ini
Kita hanya ciptaan dan serpihan debu”
6.
Debu tanah membelai wajahku
dan menggendong kepapaan jiwa ragaku
Sambil meniup ubun-ubun kesadaranku
Ibu Bumi berbisik lirih mengingatkan
“Anakku…
memang engkau dilahirkan Ibu Bapamu
Namun,
pada mulanya manusia tercipta dari debu tanah
Ingatlah kisah leluhurmu dan ajaran nenek moyangmu
Semua anak keturunan suku bangsa berasal dari unsur alam jagat ini
Jangan lupakan hakikat diri pribadimu
Pandailah bersyukur dan berterima kasih”
7.
Saat hening diam di kaki salib-Mu
perlahan tersibak kebodohan dan kesombongan nalarku
Dan
dari atas salib terdengar lagi Sabda-Mu Yesus
“Ibu, itulah anakmu
Anak, itulah Ibumu”
Bahagia dan syukur melumat jiwa ragaku
aku mendapat penegasan sebagai anak
dan Bunda Maria jadi Ibuku
Lalu Yesus bersabda lagi,
“Ya Bapa, ampunilah mereka semua, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”
Tangan-Nya yang berlumur darah diulurkan padaku
sambil jari-Nya membuat tanda salib di dahiku
seraya memberikan amanat-Nya
“Pulanglah, tulislah kalimat amal pada salibmu
Dan pikullah salibmu hingga akhir usia nafasmu”
8.
Dengan takut dan gentar
aku pulang sambil
sadari kelancanganku
Kalimat literasiku ternyata salah alamat
Jesus tidak perlu tulisan tambahan pada salib-Nya
Tetapi …
yang harus aku tulis adalah pada salib jiwa ragaku
“Barangsiapa yang mau mengikuti Aku
hendaklah ia memikul salibnya, menyangkal dirinya dan mengikuti Aku
Saudara dan saudariku adalah mereka yang mendengar dan melakukan sabda-Ku”
9.
Sempat terpikir dalam kelana imanku
menuliskan sebait syair serpihan jiwa
“Ya Yesus
Engkau yang sengsara dan wafat tersalib itu adalah Sang Sabda Allah
Yesus…
Engkau juga Alfa dan Omega
Maka
Engkaulah produser segala realitas alam semesta termasuk diriku
Semua yang mampu diketahui dan semua yang tak pernah dipahami kami manusia
Engkaulah Sang Penulis skenario jagat raya dan Sang Sutradaranya
Engkau pula adalah pemain utama
karya penebusan dengan jalan salib, wafat, dan kebangkitan-Mu
Aku sadar dan mohon rahmat iman
bahwa Engkaulah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan bagiku
Engkaulah Tuhan Penebusku dan Raja Semesta Alam
Maharahim dan Mahapengampun bagi semua anak manusia
Mahakasih Ilahi lestari
Mahacinta Allah abadi
Sungguh nyata dan sekaligus Mahamisteri”

