Simply da Flores
1.
Purnama di Pelukan Awan
Sepanjang hari …
kubawa sebait rindu mencari wajahmu
Dan
saat bertemu angin tenggara
dia kabarkan engkau di ujung samudra
Aku diam tanpa kata
karena rindu yang membara
Ketika senja melangkah ke istana samudra
Aku ikut mencarimu purnama
berharap bisa bertemu engkau di sana
Ternyata harapanku sia-sia
engkau sudah dirangkul awan ke angkasa
untuk melukis kalimat asmara
Aku menyendiri di sudut malam
saksikan engkau di pelukan awan
merenda rindu menenun damba
Padahal
di sini aku bawakan sebait sajak
untuk kita puaskan dahaga cinta
dan kenyangkan lapar kasih
Aku terus mengawal malam
lepaskan kelana rindu menjelajah angkasa
biarkan ziarah damba lintasi langit mimpi
dan
kutunggu angin datang menemani
untuk melukis pelangi di pelataran jiwa
ketika besok mentari pagi tiba
2.
Hujan Rindu di Sudut Malam
Angkasa mesra memeluk bumi
sambil teteskan air mata rindu
Basahi wajah debu tanah
membelai sekujur tubuhnya yang gersang
Suara burung malam sayup terdengar
tuangkan sebait cemburu pada pucuk-pucuk pohon
Angin sepoi melerai sepi
percik air hujan mencubit galau hati
Tanya berlari dalam lorong gulita
mencoba meraih tempat berlabuh
Mungkin di muara atau rimba raya
saat kunang-kunang berpesta
bisa dengarkan denting nada asmara
Kutulis saja untaian kata jiwa
berselancar dalam dunia maya
berkelana menemui hujan dan angin dingin
mengembara menyapa burung malam dan kunang-kunang
Harapkan bertemu purnama dan tarian bintang
di sudut malam sepi lengang
3.
Ketika Fajar Melerai Gulita
Gema senandung kokok ayam
membawa tirai cahaya menuruni puncak gunung
membentang sinar surya memcumbui tebaran embun
Aneka margasatwa kidungkan pujian
hijau pepohonan dan padang rumput nyanyikan madah
Seribu rasa dan sejuta sanubari terpesona melihat angkasa
Aku kagum di pematang ladang hari kehidupan
Saksikan benih dilahirkan debu tanah
membuka mata melihat angkasa dan cahaya surya
Para petani sahaja membawa doa pasrah
karena benih dan cuaca hanya dimohon
pada petak sawah ladang dengan keringat pasrah
sambil telapak tangan membelai kemurahan bumi langit
Melangkah ke tepi samudra
kucoba tebarkan jala asa menangkap makna
Ombak gelombang bercanda menghibur kerapuhan jiwa raga
Butiran pasir pantai meneladankan kepasrahan nasib
Karena siang malam mereka diaduk takdir semesta
Waktu dan angin dendangkan kesetiaan pada cahaya surya
Aku terus berkelana dengan rindu damba

