Simply da Flores
Butir-butir pasir di hamparan pantai
mengukir kembara telapak angan
yang menari gesit di pelataran rindu damba
seorang gadis cantik berbusana cahaya
Mungkin dia Putri Mentari dan Ratu Rembulan
yang tersesat di belantata zaman
Gadis itu telah menelusuri gunung, bukit, dan lembah
sudah menjumpai aneka sosok di dusun, kampung, dan kota
Ia mengembara ke delapan penjuru buana
Terus mencari dan bertanya
meramu senyum tawa dan air mata
memasak menu makna suka duka
Berkelana mencari perjaka belahan jiwanya
Ketika di hutan rimba raya
seribu pohon telah dihampiri
agar menemukan sosok wajah idaman
Ketika melintasi padang belantara
aneka penghuni sabana sudah ditanyai
namun hanya ilalang yang tersenyum sambil menusuk jemari purnama
Saat di kolam, danau dan sungai
dia sering berkaca berusaha melihat rupa damba jiwanya
Dengan sayap-sayap mimpinya
gadis itu sudah menjelajah angkasa raya
Memetik kerlip laskar bintang
untuk mendandani pujaan hatinya
Memanen seribu pesona purnama
untuk menjahit gaun pengantin asmaranya
Namun
belum pernah temukan siapa pemuda pujaan
Sudah seharian kusaksikan gadis itu
berlari mengejar buih ombak di tepi pantai
Berjuang mengasinkan lautan dengan air matanya
Mencakar wajah pantai dengan kuku galaunya
karena butiran pasir hanya diam diterpa gelombang samudra
Tak bisa diajak bermesra dengan rasa sanubari
apalagi menjawab tanya jiwanya yang belia
“Siapakah kekasih belahan jiwaku”
Senja merona dipelukan samudra
Gadis itu berlutut dan rebahkan raga di hamparan pasir
Kaki angin dipeluk dan dibasahi dengan air matanya
Perlahan raganya ditelan ombak samudra
Jiwanya dibawa rindu damba ke angkasa
Lalu dia menitipkan sepotong doa
dan terlukis di wajah pasir pantai
“Wahai, Pangeran Angin
jadilah engkau belahan jiwaku
Engkaulah batu karangku untuk membendung keluhanku
Engkaulah Samudra Kerahiman untuk menampung lara derita perjuanganku
agar siang malam memeluk cahaya fajar yang tak pernah berhenti bersinar
Engkaulah tambatan jiwa ragaku
untuk memadu kasih cinta sejati
Aku ingin mengembara bersamamu
melintasi ruang dan waktu
Meski engkau pun tak punya gubuk atau istana
tetapi kutahu engkau ada di mana-mana
dan selalu mengawal waktu”

