Simply da Flores
1.
Sayup mengembara di trotoar
berjalan terseok menyusuri deru metropolitan
Terkulai di antara sampah plastik
di kota, pemukiman dan kawasan industri
Berjibaku dipanggang terik dan dipeluk gulita
Terbuang dari gedung modern megah
setelah diusir dari kantor mewah pejabat publik
Suara-suara kaum terpinggirkan
mati tersumbat di selokan
dan got kali pekat berbau tengik
2.
Kata dan angka mencatat data
Wajahnya memelas penuh harapan
ketika masuk dalam kepentingan proyek pembangunan
demi meraih jumlah yang didambakan
Karena administrasi menuntut bukti
demi mulusnya anggaran bisa digelontorkan
Suara-suara terpinggirkan berjasa
Tetapi…
ketika harus mempublikasi gengsi
dan menyembunyikan fakta kemiskinan rakyat
Maka semua bisa disulap iptek
karena gengsi dan jabatan harus diamankan
Suara-suara yang terpinggirkan dibungkam
gulita dan kabut hitam merenggut
3.
Dinamika zaman menyibak gulita
kemajuan iptek membuka misteri
Jejak-jejak digital bicara
tentang aneka kebodohan para penjahat
yang coba berbohong di depan cermin
dengan aneka kosmetik dan topeng
Karena suara-suara yang terpinggirkan bergaung
Kecanggihan teknologi merekam data
Yang telah disembunyikan dalam kegelapan
Yang biasa diremehkan dilupakan
karena asyiknya ketamakan
Yang diabaikan karena kerakusan
Yang disepelehkan karena kuasa jabatan
4.
Iptek dan hukum alam
menyingkap rekaman alam semesta
Harta dan tahta jabatan tak abadi
Kerakusan dan kebodohan tak hakiki
di hadapan desah nafas pribadi
Dan suara para korban yang terpinggirkan
tidak pernah hilang dalam jejak digital
pasti tersimpan di catatan semesta
Sinar mentari tersenyum berseri
saksikan sandiwara sekelompok sosok
orang bodoh dan tamak bertopeng
Debu tanah ibu bumi
diam haru setia mendoakan
segelintir orang sombong dan lupa diri
Karena berpesta di atas lara derita sesama saudaranya
“Raga bisa dibungkam dan dibunuh
tetapi suara hati sanubari pribadi
bergema abadi dalam ruang semesta
dan didengar telinga Sang Ilahi”

