Simply da Flores
1.
Harimau-harimau itu mengaum
dari mulut-mulut tak bernama
karena wajahnya ditutupi aneka topeng
Mungkin mulutku karena lapar
Mungkin mulutmu karena ada harapan
Mungkin mulutnya karena ada damba
Mungkin mulut mereka karena marah berontak
Lalu…
ada yang lirih berteriak ingatkan
“Mulutmu, harimaumu”
Tetapi aku sejenak terhentak
“Bukankah mulut itu dikomando otak
Bukankah tindakan dikendalikan pikiran
Kemanakah hati nurani dan sanubari jiwa?”
2.
Madu, lipstik dan racun berebutan
menghiasi bibir-bibir yang tersenyum
Namun wajah tetap tertutup topeng dan kaca gelap
Maka tak tahu siapa yang tersenyum
dan mengapa dia tersenyum menggoda
Ada senyum madu karena perankan lakon sandiwara
Ada senyum lipstik saat pidato dan menebar janji
Ada senyum racun ketika menawarkan aneka produk jualan
Ada senyum permen dari atas panggung hiburan
Bahkan ada senyum mencuri sambil menggenggam senjata untuk membunuh
“Jangan ada dusta di antara kita
Jangan menipu hati sanubari pribadimu
Kita tahu apa dan siapa diri ini”
3.
Jejak telapak kelana pribadi
tercetak di wajah debu tanah
Ibu Pertiwi merekam pasti dalam diam
tak ada yang bisa menipu dirinya
Bapa angkasa memotret perjalanan keputusan setiap individu
tak ada yang mampu bersembunyi dari matahari
Banyak yang yakin mampu membohongi sesama
dengan jabatan, relasi dan hartanya
atau dengan kecanggihan teknologi zaman milenial
Sejatinya kita tak bisa menghapus fakta sejarah dan perjalanan hidup diri pribadi
di hadapan sanubari jiwa, sesama saudara, alam raya dan Sang Pencipta
4.
Jemari kedua tangan kreasikan aksi
telapak lahirkan beragam inovasi karya insani
Sejarah peradaban mencatat kecanggihan ilmu dan teknologi
Manusia mengubah sejarah peradaban
hingga zaman digital milenial
yang lahirkan beragam kemudahan manfaat
Ada relasi dengan pribadi dipenuhi
Ada keperluan dengan sesama diperpendek jarak dan waktu
Ada aneka isi alam bisa dikuasai dan diolah fungsinya
Lapar damba dan dahaga tanya
tak pernah tuntas meriah jawaban
5.
Kehidupan dunia seperti panggung sandiwara
setiap pribadi harus putuskan perannya
Ada yang kaya, pintar dan berkuasa
Tetapi
ada juga aneka korban teknologi dan kecanggihan zaman
karena keterampilan dan kecerdasan banyak orang tidak secepat kemajuan teknologi
Manusia hendak menyibak semua misteri
meskipun harus membunuh hakikat pribadi
yang mutlak tergantung pada alam semesta
dan sangat terbatas di hadapan Sang Pencipta
Keputusan peran mesti dilakukan selalu
termasuk tidak mampu memutuskan apa pun
hanya pasrah, diam dan tak berdaya

