Simply da Flores
1.
Ketika pagi fajar menyingsing di Timur
Anak-anak negeri berlari memetik cahaya
Generasi pewaris tengadah ke angkasa
rindukan suara sabda semesta
Kisahkan ayat-ayat amanah Nenek moyang
yang alirkan energi doa harapan
melalui orangtua sanak saudara
Kami generasi tumbuh lugu dengan warisan
Tentang asal usul kekayaan alam
Tentang sejarah suku adat budaya
Tentang Surga yang jatuh ke bumi
Tentang sungai yang alirkan emas
Tentang Bunda Kasuari dan Panglima Cendrawasih
Tentang Noken dan Tifa
Tentang makna sirih pinang dan sagu
Tentang damainya Negeri Pantai Pasir Putih
Rindu damba hari esok ceria
2.
Merah Putih berkibar di kota dan kampung
Lagu Indonesia Raya diajarkan
Garuda Pancasila dijelaskan maknanya
Ayat mantra Pancasila didaraskan
Kita satu Nusa dan satu Bangsa
Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia
Kami tumbuh kembang dalam kebingungan
mengalami fakta berbeda dengan cerita
Maka kami tak berani melihat fajar
tetapi tunduk menangis memeluk tanya
Mengapa hidup kami makin tidak nyaman
Ada apa tentara polisi makin banyak di kota dan kampung
Mengapa banyak saudara dan orangtua dikejar, ditangkap dan yang tertembak mati
Ada apa lahir nama OPM, GPK, Teroris dan stigma lainnya
ketika bicara dan menjerit lara merana
Ketika pertahankan tanah warisan leluhur
Ketika memperjuangkan nasib dan harkat martabat yang terinjak
Kapan bisa saksikan kepak sayap Geruda Pancasila?
3.
Siang hari ketika fajar melintas Kathulistiwa
dari Maluku, Sunda Kecil, Selebes dan Borneo
Putra-putri penerus bangsa bergelora
bermandi keringat sepanjang pantai
Kami berbasuh peluh di ladang sawah dan hutan
Kami dengungkan nyanyian
Tanah airku Indonesia
diiringi debur ombak gelombang fakta
Musim pancaroba terus terjadi
berbagai bencana datang silih berganti
Kami senandungkan syair satu Nusa satu Bangsa
ikuti irama sepoi angin harapan
Yakin teguh ini negeri tumpah darah
yang pasti menjamin masa depan sejahtera gemilang
seperti cita-cita Proklamasi kemerdekaan NKRI
yang diajarkan di bangku sekolah
4.
Antara rindu damba harapan
ternyata berbeda dengan fakta pengalaman
Banyak tanah dikorek dan dikuras untuk tambang
sedangkan masyarakat setempat hanya penonton
bahkan banyak yang digusur dan diam merana
Ribuan hektar hutan belantara
dibabat dan gundul untuk perkebunan
lalu rakyat pemilik jadi kuli
atau terpaksa merantau dan lara derita
Inikah makna kemerdekaan yang diprokalamasikan?
Siang makin terik membakar
seperti musim hanya kemarau panjang
Kami mendapat gelar kelompok rakyat tertinggal, termiskin, terluar
entah sampai kapan bertanya dan merana
Apakah kami berhak atas tanah air ini
untuk menjamin kesejahteraan nasib
Apakah kami pun generasi bangsa dan warga negara Indonesia
Akankah pernah melihat kepak sayap Garuda Pancasila?
5.
Saat senja melintas ke Barat
lewati Bali, Jawa dan Sumatera
Aneka kisah cerita kami saksikan di sosial media
Ada kota-kota dibalut gemerlap cahaya kemajuan pembangunan
Ada derap kehidupan siang malam
Ada pusat kebijakan NKRI di Jakarta
dengan gedung megah dan aneka kemajuan modern
Di sana tempat sumber kebijakan NKRI
nasib bangsa dan tanah air ditentukan
Ternyata ada kontradiksi nasib rakyat bangsa
Ada kaum miskin dan gelandangan di kota-kota
Ada jeritan kaum buruh dan pengangguran
Ada polisi dan aneka masalah sosial
Ada nasib rakyat di Sumatera hampir sama dengan di Borneo dan Papua
Ada heboh maraknya korupsi pejabat yang dibanggakan
Ada hukum dan aturan jadi hutan rimba belantara
Ada samudra kata, janji politik dan sumpah jabatan
6.
Merayakan HUT 80 Proklamasi NKRI
Merah Putih berkibar nyata dilihat
namun lahirkan tanya menggelitik nurani sanubari
Banjir informasi di sosial media
tentang perayaan dan dirgahayu kemerdekaan NKRI
tentang upacara di Istana Negara dan IKN
tentang Pidato kenegaraan Presiden di depan DPR, MPR dan DPD RI
tentang berbagai perayaan di tingkat Propinsi, Kabupaten dan desa-desa
Namun
pikiran kami redup dan diselimuti gulita
karena malam telah tiba
Banjir informasi digital menambah galau pikiran mencerna
antara informasi, fakta dan harapan esok
Mungkin seperti bendera hitam pembajak
dengan lambang tulang dan tengkorak
Dan
belum terdengar pekik suara dan kepak sayap Garuda Pancasila
7.
Kami generasi muda pewaris negeri
terlahir di zaman modern
Dengarkan kisah cerita dari orangtua dan Kakek Nenek
tentang heroiknya perjuangan para pahlawan
untuk merdekakan bangsa dari penjajah
Kami anak-anak negeri pewaris bangsa
belajar sejarah NKRI dari bangku sekolah
dengan kurikukum yang sering berganti
dengan sejarah yang sedang ditulis ulang
Lalu tanya resah mencengkram
dalam kemudahan zaman digital
Kami dimanja dengan jawaban dari mbah google
dimudahkan oleh ajaran guru artifisial inteligence
Maka aneka informasi dan fakta
berperang dalam pikiran kami
Apa itu kemerdekaan dan makna NKRI
Siapakah penjajah dan pengkhianat bangsa ini
Bagaimana nasib masa depan kami?
8.
Ketika menggugat fakta dan menggantung harapan
Ada seribu tanya terus mengusik
Ada sejuta jawaban datang menggoda
Karena fakta pengalaman dalam keluarga
berbeda dengan kisah cerita media sosial
Karena informasi yang dipidatokan para pejabat
sering tak sama dengan kenyataan di setiap komunitas masyarakat
Karena jawaban mba google dan AI
sering berbeda dengan yang dialami di sekolah dan kehidupan sehari-hari
Maka
ketika rayakan HUT Proklamasi NKRI
kami gamang dan galau akan nasib kami
ke mana nanti esok dan masa depan
Jika korupsi merajalela dan dibanggakan pejabat
Jika hukum seperti tidak berwibawa
Jika sumber daya alam dikuras oleh pemodal asing
Jika kibar Merah Putih disertai bendera hitam pembajak
Jika kepak sayap Garuda Pancasila tidak kelihatan?

