Simply da Flores
1.
Pengalaman akhir pekan kemarin
melintasi kota hujan Bogor menuju puncak
Hujan deras mengguyur alam
terasa sejuk dan semakin dingin
Hujan Minggu awal Agustus
Namun
berita miris dari Metropolitan Jakarta
banyak wilayah terendam banjir
dan para warga menderita lara nestapa
Cuaca sedang alami pancaroba
entah bagaimana mesti mengatakannya
2.
Hari ini mengawali pekan
dinamika metropolitan terus bergelora
setiap orang berjibaku mengejar waktu
agar meraih harapan merebut kebutuhan
Hujan kembali datang mengguyur
berbeda datangnya di setiap wilayah
Saat senja perlahan sirna
malam datang bersama gemuruh hujan
Petir kilat dan guntur bersahutan
Secangkir kopi pahit dan singkong goreng menemani
galau tanya yang terus membahana
Mengapa hujan di musim kemarau
3.
Kabar berbeda dari arah timur
jauh di pelataran kaki Kelimutu – Flores
“Kami di sini tidak hujan
Siang hari panas sekali dan malam sangat dingin
Korban erupsi Lewotobi masih lara merana
ada yang kehilangan sanak saudara
dan banyak yang harus tinggalkan kampung halaman
karena gunung terus datangkan amarahnya
Entah sampai kapan berakhir
apakah gunung berapi lain pun akan ikut marah”
Sumber geothermal terus dieksploitasi
masih banyak titik dijadikan sasaran berikutnya
Sedangkan demo penolakan masyarakat terus bergelora
dari fakta lara derita yang ada
dan kecemasan bencana yang akan terjadi
4.
Ada juga kisah tragis mencekam rakyat Flobamora
derai air mata mengalir tak henti
iringi perginya jenazah prajurit muda
Bapaknya seorang prajurit senior
yang telah mengabdi untuk bangsa dan NKRI
bagaimana kalau anak rakyat jelata
Meninggalnya satria muda ini tragis
Yang diduga tewas bukan karena peluru di medan perang
Tetapi justru karena kebuasan para sahabatnya
entah apa alasan penyiksaan
yang dilakukan bergantian sejumlah oknum
5.
Di hadapan ketakpastian akibat pancaroba alam
serta kasus tragis kematian sesama saudara
Ada diplomat muda yang tewas di kamarnya
Ada prajurit muda yang dianiaya para sahabat
Ada banyak kasus korban pembunuhan misterius
Hanya waktu yang mencatat pasti
untuk ungkapkan kebenaran dan keadilan
Manusia bisa merekayasa aneka alasan
dengan keterampilan, uang dan kuasa
Tetapi di hadapan Sang Ajal
tak ada yang mampu bersembunyi
“Apa yang ditabur pasti tumbuh dan dituai pemiliknya
Benar itu benar, salah itu salah
Nyawa dan harkat martabat setiap pribadi
adalah hak milik Sang Pencipta
Bukan untuk selera dan pemuas nafsu sesama”

