Simply da Flores
Angin malam membawa langkahku mengembara
menyusuri kisah suka duka
melintas belantara, kampung udik dan kota
lewati malam temui terik siang
Sebuah kelana menyusuri waktu
Ziarah telapak menulis jejak
angin menulis kisah desah nafas
tak ada yang bisa rakayasa
membohongi paru-paru tanpa asupan udara
Langkah penjual mengayuh roda damba
menyusuri lorong dan jalanan kota
Tawarkan rasa selera dan makna
Aneka jenis minuman dan asap imajinasi
tanpa banyak kata tapi sarat arti
Senyum ramah menyapa sesama
melayani sesuai pesanan pembeli
Pertemuan pasti angka dan kata
seperti lagu wajib sehari-hari
yang haruskan setiap orang bernyanyi
dalam irama dinamika alami
Uap kopi menyapa gulita
ceritakan kelanaku pada malam
kabarkan rinduku pada angkasa
lukiskan perjumpaan kami pada debu tanah
Kepentingan adalah syair kehidupan
dalam relasi sesama dan isi alam ini
Nikmat kopi panas yang hitam pekat
hitam dan gelap bukan kejahatan
Pahitnya kopi berikan energi sanubari
apakah lara derita harus dimusuhi
Gulita malam memeluk deru kendaraan
membelai pengendara yang berburu
Sepoi angin setia melukis desah nafas
Trotoar mengendong setia para musyafir
Ada yang melintas memulung rezeki
Ada yang lesehan melepas sepi
Ada yang terlelap di bangku jalanan
Ada yang memotret perkelahian sinar bintang dan gemerlap lampu kota
Dinamika malam di trotoar metropolitan
Penjual jajanan bersepeda lanjutkan kelana
Aku berteman segelas kopi hitam pahit
Nafas dibelai kepulan asap tanya
Angin sepoi setia mengatur oksigen
Gulita bisikan makna kelana hidup
dalam lembaran daun kering yang terjatuh dari pohon
“Daun-daun itu sudah purna selesaikan kelana alami
setia memulai tunas, daun muda, tua dan gugur
lalu kembali ke debu tanah jumpai bumi
Petugas kebersihan menggelari sebagai sampah
seperti sebaran plastik, kertas dan puntung rokok
anak keturunan kesombongan manusia
Adakah kelana nafasmu seperti daun kering dan hitam pahitnya kopi?”

