Simply da Flores
1.
Dalam Cengkraman Nestapa
Kemiskinan seperti takdir lahir
karena datang tak diminta
karena hadir dalam desah nafas
karena mengalir dalam desir darah
Kebodohan seperti kodrat kehadiran
melekat dalam jejak langkah hidup
mewarnai derap roda waktu
mengisi ruang dinamika nasib
Haruskah merana di tengah kelimpahan sumber daya alam
Mestikah jadi korban di tanah lahir ini
Apakah terlahir untuk lara nestapa abadi
Mengapa kemiskinan dan kebodohan lestari bagi kami
2.
Memburu Senja
Pada wajah terik kutinggalkan jejak
lemparkan tali pancing dan umpan
agar menangkap percik mentari
Namun
langkahnya gesit berlari
hembuskan bara dan panas
membakar resah gelisah insan
yang berjibaku memeluk waktu
Pada rimbun belantara awan
kuku jemari mencakar nasib
Tebarkan jala harapkan rezeki
di antara serpihan puing hari
Namun
angin kabarkan gulita menjemput mentari
senja telah ada di pelukan samudra
Langkah damba semakin goyah
menyibak hamparan resah gelisah
Aku terus memburu senja
dibantu sepoi angin berhembus
mengantar langkah di hamparan pasir pantai
Ombak samudra bergelora menantang
sampan rindu damba terus kudayung
Berbekal ayat mantra jiwa
kubuang pancing kutebar jala
Harapkan rezeki penopang nasib
dari rahim bunda samudra
Pada batas malam dan petang
kurayu memohon bunda samudra
yang sedang mesra memeluk senja
Malam datang bagikan rezeki di pancing
Petang hadir antarkan berkah di jaring
Sampan harapan dijawab doanya
kudapat bara seberkas cahaya senja
diberikan oleh senyum bunda samudra
dahaga rindu lapar damba
dilerai energi ayat mantra jiwa

