Simply da Flores
0.
Perang terus berkobar di mana-mana
Senjata berlomba tunjukkan kehebatan membunuh
alam lingkungan dan manusia jadi korban
Tambang semakin gencar dilakukan pemilik modal dan kroninya
Hutan ribuan hektar dibabat untuk perkebunan dan pemukiman
Tak peduli rusak dan aneka akibat buruknya
Entah sampai kapan penghancuran bumi
Manusia terus beranak-pinak
Padahal hidupnya mutlak tergantung dari alam lingkungan
Mungkin inilah zaman edan dan anomali milenial
Adakah damai dan harmoni
dengan bergelora perang nuklir?
1.
Debu tanah bersuara lirih
“Hai, manusia di bumi ini
Memang hebat kecanggihan nalarmu
Tapi hidupmu membutuhkan udara untuk bernafas
Makan minum juga dari alam lingkungan
Mati pun kembali ke debu tanah
dan kalian masih beranak pinak
Di manakah kesadaran dan nuranimu
Masihkah kakinu menginjak debu tanah
Apakah kalian terlahir dari pabrik senjata?”
Aku tak mampu menjawab dan diam
Inikah gugatan debu tanah asalku?
2.
Udara tegas bertanya pada diriku
“Apakah reaksimu ketika virus dan asap tengik mengganggu hidung dan tenggorokanmu
Bisakah paru-parumu bekerja pakai uang dan emas berlian?
Masihkah engkau hidup tanpa udara dan pernafasan?
Apa artinya manusia mati”
Aku hanya diam dan malu
karena jarang peduli
untuk menyadari pentingnya alat pernafasan bagi dihidupku
untuk pahami mutlaknya udara bagi pernafasanku
3.
Awan dan hujan mencolek nalarku
untuk berpikir tentang manfaat air
dalam seluruh kehidupanku
“Coba jelaskan jika hidupmu tanpa ada air
Apakah ada manfaat air untuk kebutuhanmu setiap hari
Apakah jabatan dan kesombonganmu bisa hasilkan air
Bisakah anda membuat awan dan hujan bagi alam lingkunganmu
Berapa uang dan hartamu bisa menggantikan air bagi dahaga dan kebersihan dirimu”
Pikiranku menerawang sunyi sepi
rupanya aku sangat kecil tak berdaya
4.
Bulan dan laskar bintang mengajak mataku melihat malam
Lalu dengan perlahan bertanya
“Berapa bintang yang bisa kau petik atau ciptakan bagi angkasa
Mampukah engkau menyuruh bulan berpurnama
Bisakah engkau terangi gulita dengan keserakahanmu
Sanggupkah ciptaan iptek manusia menerangi seluruh gulita angkasa di malam hari? “
Perasaanku bergetar tertunduk malu
Aku manusia hanya sebutir debu dalam semesta
5.
Siang dan malam merangkul pribadi
membelai jiwa raga dan berbisik
“Apakah engkau mampu membuat siang dan malam
Berapa kuat jemarimu merangkul dan memutar bumi
Bisakah kau padamkan mentari dengan ludahmu
Sanggupkah matamu melihat dan menghitung rambut kepalamu tanpa alat bantu?”
Raga dan rasa hampa membisu
Pikiran terhenyak jiwa terkoyak
Siapakah aku di hadapan sesama dan alam raya?
6.
Flora dan fauna meminta aku bicara
tentang aneka kebutuhan hidupku yang ada
yang mampu kubuat sendiri dari darah dagingku
“Bisakah engkau hidup tanpa mengambil satu pun tumbuhan dan hewan
Dari mana saja sumber makan dan minummu
Bisakah engkau makan daging sesama dan minum darahnya untuk hidup setiap hari
Di mana kesadaran dan nurani jiwamu?”
Ternyata aku tak berdaya dan mati
jika tidak ada flora dan fauna
jika tidak ada alam lingkungan
jika tak hadir jagat raya
7.
Amanah Sang Mentari bergema
“Aku hanya memberi sinar tanpa meminta diterangi
Aku membagi cahaya kepada semua
tanpa membedakan siapa pun
Akulah energi jagat semesta
dari Sang Maha Energi
Seluruh isi alam raya ini tercipta
dan manusia hanya jagat kecil
yang tergantung mutlak pada jagat raya
Mengapa kesombongan membuat sirna terima kasih
Mengapa ketamakan lenyapkan sujud syukur pada Sang Maha Ilahi
Di mana kesadaran nalar, nurani jiwamu
akan hakikat jati diri manusia
Apakah permusuhan dan perang jadi jawabannya?”

