Simply da Flores
…
1.
Di sini dalam kamar sepi sadarku
dengan bangga aku menghadap cermin
Ku telusuri seluruh tubuhku
tergores hitam putih pengalamanku
Ku rasakan detak jantungku
terdengar kisah cerita pengalamanku
Kuikuti irama desah nafasku
menggema syair langkah hidupku
Dan
aku tertegun sadari semua kelemahan serta keterbatasan
yang hasilkan noda dan goresan hitam di wajahku
Namun…
ada beberapa percik sinar membias di mataku
mengagumi goresan lukisan amal di telapak tangan
“Aku masih diberi nafas saat ini
dan cermin tak mungkin membohongi fakta pribadiku
Syukur bahwa saat ini aku bisa bersyukur”
Sering menggunakan cermin setiap hari
namun jarang jadi saat mengaca pribadi dan menyadari diri
2.
Setiap hari…
ketika aku jumpai keluarga dan sanak saudara
ada banyak kisah cerita suka duka
Mereka adalah bagian dari sejarah adaku
dan aku belum banyak bermakna bagi mereka
Entahkah besok aku bisa berarti
dalam putaran roda waktu tersisa untuk ziarahku
Aku mau memberi manfaat lebih untuk mereka
Saat kutemui para sahabat dan handai taulan
banyak perjumpaan mengajarkan hikmah
bahwa kepentingan sering jadi alasan
dan manfaatku selalu jadi ukuran
Bahkan materi jadi jaminan dan potret pribadi
“Tanya dan jawaban siapakah aku
sering diukur dari apakah manfaat aku bagi sesama
Apakah jabatanku dan status sosialku
Berapa harta dan materi yang kumiliki”
3.
Ketika aku berkelana menyusuri kota
aku jumpai beragam peran sesama
Ada pengemis, gelandangan dan pemulung
Ada kuli bangunan dan buruh pabrik
Ada karyawan swasta dan aparat negara
Ada pejabat negara dan pengusaha
dan masih banyak profesi nasib
Semua siang malam berkelahi dengan waktu
mengejar kepentingan dan mengais rezeki
“Waktu adalah uang dan relasi adalah perjumpaan kepentingan”
Ketika mengembara di desa, kampung dan dusun udik
aneka peran juga aku temui
Ada petani, nelayan, dan buruh
Ada pemangku adat budaya dan tokoh agama
senyum tawa dan pesona pribadi memancar
dengan energi kearifan warisan leluhur
“Mereka pun menyulam hari demi desah nafas dan desir darah”
Aku belajar mengenal siapakah aku
dan kusadari pribadiku hanya orang papa di antara sesama saudara
“Aku adalah pengemis yang mengembara di jagat raya
dalam tanya asali tak bertepi
Mau jadi apa dan siapa aku ini”
4.
Pernah aku berlayar menyeberangi samudra
berkaca melihat diri di hadapan luasnya lautan
Saat lain aku terbang tinggi melintasi awan angkasa
memandang dari jendela pesawat menyibak kabut
bertanya tentang hebatnya diri pribadiku
Dan
ketika mendaki gunung meraih puncak
kusadari jiwa raga ternyata tak pantas disombongkan
Aku cuma seonggok daging di tengah maha ragam alam jagat
Kembali menyepi di sudut sanubari
gema pengalaman menyinari wajah
“Aku hanya setitik debu berkelana
di tengah alam jagat semesta
Aku hanya seorang miskin papa di antara sesama saudara
Semua hidupku tergantung pada sesama dan alam semesta”
Ku ingat banggaku di depan cermin kamar
dan terasa malu menusuk jiwa raga
Bahwa
pikiran mesti selalu diajak menyadari
untuk memetik hikmah pengalaman pribadi
di antara sesama dan isi alam jagat semesta
agar bisa menjawab keputusan diri
“Mau jadi apa dan siapakah aku ini”

