1.
Sudah sekian kali aku saksikan kandang Natal
Selain ada patung bayi mungil Yesus
didampingi Ibu Maria dan Yosef
ada juga Malaikat dan bintang tergantung
Pasti ada para gembala
yang kagum, galau dan penuh tanya
saksikan peristiwa ajaib maha dasyat
Seperti mendengar dongeng atau mimpi
padahal nyata diliihat, didengar dan dialami
meski tak mampu mengatakan apa pun
Memang mereka hanya gembala ternak
2.
Aku coba merayu dan bertanya
agar para gembala mau bercerita
Dan
serpihan kisah yang terbata dibisik
puing cerita yang galau diungkap
dalam tanya yang panjang
dan kagum penuh misteri
“Kami melihat manusia terbang seperti kunang-kunang
Koq bisa bicara dan bernyanyi
lalu menuntun kami datang ke kandang
Saksikan peristiwa maha ajaib
Lahirnya bayi terbaring di palungan
dari sepasang manusia asing
karena bukan rekan gembala ternak”
3.
Beberapa gembala mengusik hening
coba curahkan galau yang mencengkram nasib
“Bayi mungil di palungan itu
ternyata ajaib meruah sejarah peradaban
Selain mempunyai pengikutnya yang beriman
jumlahnya terus bertambah di seluruh dunia
Ibu dan Bapa-Nya juga sungguh dihormati
Padahal mereka keluarga yang sederhana
mereka bukan pejabat berkuasa dengan takhta
mereka bukan pebisnis tersohor kaya harta
mereka bukan artis dan politisi
Mengapa disembah para Raja dari Timur
dan ditakuti Raja Herodes?
4.
Mendengar suara sumbang para gembala
kucoba membaca catatab sejarah zaman
tentang kelas sosial dan nasib kehidupan
yang tertarik dalam ratusan generasi
di berbagai komunitas dan suku bangsa
Nasib para gembala tak pernah berubah
hanya kuli sederhana dan rakyat jelata
Mereka bukan jadi pemilik ternak atau pedagang
Mereka tak menjelma jadi penguasa atau orang kaya
Inikah warisan peradaban manusia
Ataukah ini takdir nasib semesta
Mungkinkah memang ini skenario Sang Pencipta?
Apakah para gembala di kandang Betlehem
hanya pemeran figuran dan penonton
dalam ‘skenario Revolusi Ilahi
untuk menggenapi rencana dan kehendak-Nya?

