Bencana ini telah lahir
datang menerjang dan merenggut korban
Duka lara derita ini terus datang meradang
terlantar, dibiarkan dan galau
Di manakah para Raja itu
membawa emas, dupa dan mur
Kapankah datang para Raja itu
membawa solidaritas, bantuan dan pertolongan?
Lapar dan haus tak bisa ditunda
Hujan terus mengguyur, karena musim
Tetapi lara derita itu bukan karena musim
Kami menanti di kandang kepapaan
Kami menunggu di ruang ketakberdayaan
Apakah pertolongan masih dibicarakan terus
Apakah kesadaran para Raja belum lahir?
Ramai janji seperti hujan deras mengguyur
Fakta yang datang justru banjir dan lumpur
Pengungsian di tenda dan rumah warga
ternyata tak nyaman dan menambah galau
Ketika hanya menunggu ketakpastian
Entah masih ada tambahan bantuan
Entah bisa pindah ke tempat sendiri
Entah menunggu bencana susulan
Duka lara derita tertimpa bencana
sepertinya dianggap sepele oleh para penguasa
karena bencana belum menimpa dirinya dan keluarganya
Lahan gundul karena pembabatan hutan
dan menganganya lubang tambang tak mungkin menahan derasnya hujan
Entah kapan datang para Raja
Entah sedang bersoal jawab di sosmed
Entah masih membicarakan untung rugi
Para Raja memang punya segalanya
Ada tahta, kuasa, harta dan senjata
sehingga bisa berbuat apa saja
sesuai agenda gengsi selera
Kami yang menanti di tempat bencana
Terus dicengkram duka lara nestapa
sehingga tak mampu harus mengatakan apa
demi selamatkan nafas yang tersisa
Ke mana lagi, kami mesti mengadu
Di mana lagi kami harus mencari
Sampai kapankan balada ini berakhir
Bahkan untuk daraskan doa pun
kami sudah sepertinya tak berdaya
Dan
Ketika menanti dalam ketakpastian
Saat menunggu dalam lesu galau
Ruang dan waktu jadi gelap gulita
Entah apa dan siapa yang peduli

