1.
Tidak ada yang mau berdoa
meminta suka lara derita itu datang
menimpa dirinya dan keluarganya
Tak ada yang ceria bahagia
saksikan harta benda dan kampung halaman direnggut bencana
Yang jadi korban lenyap dalam banjir lumpur
Yang melayang nyawa bisu dibawa lahar erupsi
Hanya tersisa kenangan pedih
Tinggal tanya mengapa tanpa jawaban
Mengapa mesti mereka
Apa salah dosa mereka
Kapan lara derita ini akan sirna?
2.
Ada anomali dan kisah tragis
Kata berbisa dibalut senyum
saksikan bencana sebagai ladang panen
Karena kuasanya bisa puaskan selera
Karena kewenangannya bisa kumpulkan harta
dari duka lara derita bencana
Tak peduli apa kata manusia
karena yakini mempunyai seribu cara
untuk bisa maling dapatkan kepentingan selera
Karena tak ada takut dosa
percaya bisa membohongi Sang Pencipta
Karena tak ada rasa bersalah
ketika merampok dari duka lara derita sesama
3.
Kata-kata indah bisa diciptakan
Ini kegiatan sosial dan kemanusiaan
Ini demi membantu meringankan derita korban
Ini program diutamakan demi keselamatan
Ini sungguh prioritas demi keadilan
Namun
di balik kata manis dan publikasi viral
Manipulasi data bisa dilakukan
Barang bantuan bencana bisa disembunyikan
Ada intrik dan taktik dalam distribusi
Ada juga aksi pilih muka dan pembelokan penerima
Seribu satu cara bisa terjadi
demi meraup keuntungan pribadi dan kelompok
Pesta pora kenikmatan di atas derita lara korban bencana
4.
Jutaan gelondongan pohon dengan angka tertulis
namun dikatakan hutan bisa menebang diri sendiri dan terhanyut
Lumpur dari tanah gundul dan lubang tambang menerjang
namun disebut bahwa itu karena hujan deras dan musim pancaroba
Kenyataan lapangan dengan data jelas terpublikasi
tentang kolusi dan korupsi dalam eksploitasi sumber daya alam
Namun bisa dijawab dengan retorika dan saling mempersalahkan antara pribadi, kelompok dan lembaga
Bahkan dalam bencana yang dasyat terjadi
justru jadi kesempatan emas menghilangkan bukti dan tanggung jawab
lalu lahir aksi baru merampok dana negara untuk para korban
dengan permainan data dan manipulasi kuasa
5.
Bencana ternyata membawa nikmat
Mungkin inilah kesempatan emas
bagi pejabat rakus dan koruptor
bagi politisi busuk dan tamak
bagi pegiat sosial yang berwatak maling
bagi sosok pribadi yang bertabiat penjahat
Karena bencana dijadikan kesempatan pembawa nikmat
Karena manipulasi kata dan angka sudah jadi profesi dan budaya
Tanpa rasa bersalah dan dosa
Tak peduli duka lara derita korban
Tak takut pada Sang Maha Melihat
Yang penting kaya raya dan puas selera
Karena diyakini sulit ditemukan pencurian
saat ada bencana dan situasi darurat

