1.
Lidah bencana dipenuhi lumpur
coba bicara, tetapi tak ada suara
Pekik rintihan pepohonan menikam tenggorokan
Lumpur tamak menyumbat mulut
Sampah berserakan menutup lubang hidung
Semua terbawa arus selera kemunafikan
Datang menerjang manusia, rumah perkampungan
Membawa mereka menemui muara dan samudra
Jutaan tanya tak temukan jawaban
karena alam tak bisa disogok atau dibohongi
2.
Ada suara para pejabat munafik
mencoba merayu luas angkasa
agar jangan katakan kisah penyebab bencana sesungguhnya
Ada bisikan lobi pengusaha tamak
berusaha membungkam suara langit
Jemari dan telapaknya menawarkan cek dan uang dalam karung
agar diam tak ceritakan kerakusan mafia penguras sumber daya alam
Banyak wakil rakyat berwajah hitam dan abu-abu
bahkan berpura-pura diam seribu bahasa
Para korban bencana tetap galau merana
mendambakan keadilan dari Sang Pemilik semesta
3.
Banyak saudara sebangsa terus prihatin
ungkapkan doa mantra leluhur memohon
agar hujan, guntur petir berhenti beraksi
menjalani musim pancaroba
Banyak doa dan ritual merayu angkasa semesta
agar jangan lagi mengguyur wajah tanah
Hutan yang gundul terluka
Gunung bukit padang lembah merana
penuh borok lubang menganga
Karena birahi selera terus berkuasa
memperbudak jiwa raga yang gelap mata
Tak peduli harus bergelimang noda pekat dosa
asalkan terus kaya raya dan berkuasa
4.
Solidaritas kemanusiaan mencoba merayu langit
karena menyadari senasib galau terhimpit
Oleh brutalnya kerakusan segelintir pribadi
yang lapar nafsunya tak pernah kenyang
yang haus tamaknya tak pernah puas
Mata langit siang malam melihat
karena sejuta telapak kebodohan
tak mampu menutup wajah angkasa
karena ribuan lembar tirai hitam kemunafikan
tak mungkin mampu membungkus sinar mentari
Aku coba merayu misteri langit
agar jangan merenggut nyawa rakyat jelata
dengan aneka bencana dasyat
Mengapa kemarahan alam semesta
seperti tak punya mata adil dan rasa kasih sayang
Kapan Sang Ratu Adil datang berkuasa atas manusia?

