1.
Pada lembaran almanak pasir pantai
Siang malam tak pernah berhenti
Gelombang mencatat dan ombak menulis
Tentang kisah harapan nelayan menjala ikan
Tentang rindu pelaut pada pelabuhan
Tentang mimpi para penumpang berziarah kelana
Tentang suka duka peradaban zaman
yang selalu dibawa air sungai ke muara
lalu disambut tanpa sortir bunda samudra
Meskipun banyak manusia tak peduli membaca
karena jiwa raga dikuasi tamak selera
dan lupa akan hakikat dirinya
2.
Angin tak pernah lalai membaca
tulisan kisah cerita gelombang samudra
Matahari, bulan dan bintang
selalu menyimak catatan harian ombak
pada lembaran buku realitas pasir pantai
Tentang sampah dari gunung bukit dan lembah
yang digunduli keserakahan pebisnis tamak
Tentang lumpur dan mercuri dari limbah aneka tambang
Tentang beragam zat kimia dari kawasan industri
Apalagi sampah plastik dari kecerobohan diri beraneka sosok anak zaman
Sesekali bunda samudra menyapu wajah dengan badai pasang
3.
Ketika ada kiriman bangkai binatang berbau tengik
muara dan laut tak pernah menolak
ombak setia menulis fakta zaman
Saat ada darah daging dan tulang manusia
yang hanyut dibawa banjir bencana
Gelombang pun tekun mencatat kisah bencana
hasil kreasi kerakusan dan keserakahan insan
Ketika kapal tenggelam dicakar jemari arus
kisah ceritanya juga tak terlewatkan
Rekaman ombak gelombang
setia menulis dalam buku sejarah pasir pantai
Inovasi dan kemunafikan insani terus terjadi
dan sering tak mau peduli
karena yakin bisa bersembunyi dari matahari
4.
Literasi ombak gelombang
pada buku harian pasir pantai
memang berbeda dengan literasi canggih insani
Jemari manusia bisa menulis di kertas dan jadi buku
kebenaran kisah cerita tergantung siapa yang menulis
Tangan trampil generasi digital
bisa berkreasi dalam aneka gaya dan cara
maka makna kisah cerita tergantung siapa yang mampu membaca
Ombak gelombang terus tersenyum
mencatat realitas dan kenyataan manusia tanpa cacat
Sedangkan manusia mampu merekayasa sesuai selera dan nalar tamak
karena yakin membodohi alam semesta

