1.
Serpihan puing berserakan
Ketika bencana dasyat datang menerjang
Korban nyawa terkapar dan hilang
Entah bagaimana harus menangani
Korban harta hancur lebur
Entah siapa yang bisa diharapkan
Korban yang terluka dan tak berdaya
Entah kapan mendapat pertolongan
Tanya bergentayangan mencekam pilu
“Apa salah dan dosa kami
Mengapa harus kami yang jadi korban
Mengapa alam ganas marah mengamuk
Di manakah Sang Ilahi Maha Adil?”
2.
Serpihan puing berserakan
mengotori wajah seluruh negeri
Di kota-kota ada banjir dan sampah
jadi sahabat para gelandangan dan kaum miskin
Segala cara dihalalkan asal bisa makan hari ini
Sedangkan orang kaya berpesta pora
Di kampung dan dusun udik
hutan belantara sekonyong gundul dibabat
ribuan hektar menjelma jadi perkebunan
Bukit lembah dan gunung dikuras
dirobek demi mineral gas dan minyak
Alam rusak datangkan bencana dasyat
Rakyat jelata sahaja duka lara melarat
Puing-puing kemanusiaan berserakan
Serpihan harkat martabat hilang sirna
3.
Hutan sakral untuk ritual dicaplok
Rumah adat dan budaya leluhur digusur
Para pemangku adat dan anak cucu diusir
Yang melawan ditangkap dan diadili sepihak
sebagai pemberontak melawan negara
atau pihak penghalang pembangunan
“Ini negara Pancasila dan demi cita-cita Proklamasi
Inilah kebijakan nasional yang adil dan beradab
demi kesejahteraan seluruh anak bangsa
Tanya semakin galau di antara serpihan puing akibat keserakahan
4.
Bhinneka Tunggal Ika hanya kata
untuk menghancurkan keragaman kekayaan alam tanah air
untuk menghilangkan aneka suku adat budaya
yang jadi fondasi NKRI
dan rakyat pemilik bangsa ini
Serpihan jiwa raga diterbangkan badai ketidakadilan
Puing-puing harkat martabat galau merana
di telapak pejabat koruptor, politisi busuk dan pemodal tamak
Entah sampai kapan terjadi
Entah ke mana nasib bangsa
Entah di mana mesti berharap?

