1.
Kepada matahari perempuan berkelana
meniti tangga cahaya pagi
menabur doa sepanjang hari
hingga senja meninggalkan ruang
Dia telah terbiasa dipanggang api tungku
demi hidangkan rezeki bagi keluarga
Dia sudah bersahabat dengan api lilin, lampu dan kobaran bara kebakaran
Dia sudah ditikam petir kilat dan disiram letusan gunung api
Apakah aku putri cahaya
yang hanya memberi tanpa menerima
Mengapa aku terlempar ke bumi
untuk mengandung putra-putri peradaban
tetapi tak mampu menetukan langkah pribadinya
Haruskah aku merangkul siang dan malam
sebagai panggung pentas sang waktu
Apakah nafasku adalah api semesta?
2.
Kepada bulan dan bintang
saat malam menyelimuti jiwa raga
Perempuan berbisik lirih dalam diam
Apakah aku ini bulan
dan aneka planet angkasa
yang hanya terima bias sinar surya
untuk menyinari wajah gulita
Mengapa aku harus berjaga siang malam
untuk menghitung jejak langkah kehidupan
serta membaca tulisan keputusan dan pilihan lukisan setiap anak manusia
Haruskah aku mendengarkan aneka syair dan lagu insan
di atas panggung sandiwara kepentingan?
3.
Kepada angin sejuta wajah
yang selalu menari tak pernah berhenti
Perempuan belajar melatih dirinya
agar bisa lincah gemulai menari
Temukan jawaban seribu tanya
pada nafasnya yang tersengal
pada jemari tangan yang lelah
pada langkah kaki yang rapuh
pada sosok raga yang gontai
pada aneka rasa emosi yang berjibaku
pada pikiran berlari dengan luka
pada nurani sanubari yang terbakar api
Kapan aku bisa tersenyum tanpa luka
Akankah aku tertawa tanpa air mata
Bolehkah aku damai tanpa darah derita
Mungkinkah aku terlelap memeluk rahimku tanpa tanya?
4.
Datang ke sumber air segar
perempuan minum puaskan dahaga
mengambil seteguk jawaban untuk keluarganya
Lalu berjalan menyusuri aliran sungai realitas
lewati kolam dan bebatuan
berhenti di genangan rindu damba
terus berkelana menuju muara
Air yang bening terus bercerita
tentang aneka tanah yang dibasahi
tentang bermacam tumbuhan dan makhluk yang dijumpai
tentang beragam kotoran yang menyertai
tentang terik yang keringkan dirinya di musik panas
dan semua perilaku manusia kepada air sepanjang sejarah
Perempuan terdiam dan terus bertanya
Apakah aku ini mata air dan sungai?
5.
Kepada pasir pantai dan samudra
perempuan pergi datang berkali-kali mengajukan pertanyaan
Mengapa kalian diam saja siang malam
saat dihempas ombak gelombang
dan pasir pantai hanya tersenyum merangkul jejak langkahnya
Wahai ombak gelombang lautan
apakah kalian tak lelah mendatangi pasir pantai sepanjang waktu
mencium telapak kakinya
memeluk membasahi wajah dan raganya
Wahai lautan luas samudra raya
mengapa menerima semua yang dibawa sungai dan yang ditumpahkan angkasa
juga semua perilaku manusia sepanjang zaman
Apakah nasibku harus seperti pasir pantai, ombak gelombang dan samudra luas
Angin merangkul jiwa raganya
agar berkelana ke panggung buana, angkasa dan matahari
biar temukan jawaban hakiki dari bisikan Sang Ilahi

