1.
Dengan sisa asa yang merana
Kami hanyutkan tanya pada banjir
Kami lepaskan harap pada lumpur
Kami pasrahkan nasib pada lahar dan api
Kami tumpahkan lara derita pada ombak gelombang
“Apa salah dosa kami pada alam
Apakah tangan kami yang mengundulkan hutan belantara
Apakah jemari kami yang mengoyak perut bumi
Adakah serakah kami yang memanggil bencana
Di mana mata bijaksanamu, hai, semesta
Di mana waras kuasamu jagat raya”
2.
Dengan remah iman yang galau
Puing doa ini kami hamburkan
padamu bumi tanah yang mengamuk
Benarkah engkau bijaksana datangkan bencana
yang merenggut nyawa saudara kami yang sahaja
yang menghilangkan harta benda kami yang sederhana
Dan ketika kami duka menderita
begitu sulit didengar jeritan kami
demikian beratnya peduli pihak yang diandalkan
Ke mana kami mesti berharap
Apakah doa kami tanpa alamat
Ataukah memang takdir kami demikian?
3.
Tanya ini bisu tak bertepi
karena jawabannya adalah tanya
Lara derita ini tak ada ujung
karena solusinya adalah kata-kata hampa
Duka sengsara ini lingkaran setan
karena kami terisolir dan hanya rakyat jelata
Galau dan nasib merana tanpa solusi
jadi serpihan tanya hampa
Mengalir dihanyutkan banjir lumpur
Terkubur di dalam longsoran sampah
Terguyur dalam hujan deras
Hilang terbawa terbawa angin badai dan ombak gelombang
4.
Doa kami jadi puing dan sirna
Karena bencana tak ada mata
untuk melihat kenyataan telapak tangan dan kaki kami
Karena bumi langit tuli mendengar suara kejujuran kami
Karena banjir lumpur kejam menghujam nasib kami
Karena lahar dan api ganas membakar kesahajaan hidup kami
Karena keadilan dan kebijaksaan hanya untuk para penjahat
Apakah kami salah berdoa?
5.
Mungkin ini serpihan tanya terakhir
karena faktanya tanya ini abadi tanpa jawaban
karena memang takdir kami lara menderita
karena jiwa raga sanak saudara kami tak mungkin hidup lagi
karena harta benda kami tak akan hadir kembali
ataukah memang kami tak pantas bertanya
Mungkin ini puing doa penghabisan
karena lara derita kami tak berujung
karena doa bukan solusi kami para korban
karena bumi langit buta tuli dan bisu
Ataukah memang kami tak layak berdoa
di hadapan takdir maha suci dan maha misteri

