1.
Wajah purnama merah padam
tidak seperti biasanya penuh pesona
datang istimewa di awal Desember
Melerai tabir awan hitam pekat
Saksikan bumi yang terluka parah
sedang lara menjerit dan merintih
karena harus terima jasad para korban sahaja
Harus menampung jenazah pohon pembalakan liar
Harus terima lumpur nasib masyarakat korban
Harus membongkar belenggu ketidakadilan yang diderita rakyat
Wajah sendu pilu purnama tanpa kata
karena manusia ahli produksi kata berbisa
Apakah amalan iman Ketuhanan yang Maha Esa?
2.
Purnama berwajah merah padam
hadir pilu di awal Desember
Wajahnya sendu mendekap sosok bumi
agar lebih melihat dan mendengar
Jiwa raga merana yang terus berguncang
Wajah derita pilu galau
yang terlunta di berbagai pelosok negeri
Air mata purnama mengguyur deras
sirami seluruh pulau di negeri ini
Bencana alam terjadi di mana mana
menggugat kesadaran segenap manusia
Mengapa keserakahan manusia berkobar
dan kesombongannya gemerlap berbinar
Inikah bukti nyata kemanusiaan yang adil dan beradab?
3.
Purnama merah padam awal Desember
menyapa sendu
bunda samudra yang harus terima semua sampah manusia
Sekarang diminta segera bereaksi
Jangan terus menampung sampah
harus alirkan arus gelombang
menggugat manusia
Di manakah para penjahat kemanusiaan yang rakus tamak
Masih adakah pikiran waras dan hati sanubari
Kapan hentikan kesombongan dan kerakusan
Mampukah manusia hidup tanpa alam lingkungan
Ataukah ini pengamalan persatuan Indonesia?
4.
Purnama merah padam awal Desember
hadirnya bukan penuh pesona
Mungkinkah ini utusan Penguasa langit
bersama hujan guntur petir
untuk menggugat kelakuan manusia
Mengapa hampir bersamaan dengan kemarahan bumi
Ada geram gunung api meletus
Ada banjir dan longsor menerjang
Ada ombak gelombang mengamuk
Ada gempa bumi berguncang
Ada angin badai topan menyerang
Siapakah aku di hadapan alam semesta ini
Jarang terdengar suara dan aksi nyata wakil rakyat yang terhormat
Di mana hikmat dan kebijaksanaan para pemimpin?

