1.
Tengah malam sunyi sepi
Bulan lirih merintih sendiri
Ternyata awan mencengkram dan menyiksa
Wajah bulan dibalur arang noda
agar angkasa bisa dipaksa
menangis sirami gulita bumi yang miris
dengan mantra kebijaksanaan semesta
untuk perilaku insan yang buta
Manusia terus mengejar selera
menabur benih sirami bencana
dengan gengsi dan nafsu kuasa
2.
Dari pelataran gubuk bambu
Aku pandangi tiga kucing galau
yang berdiri diatas batu nestapa
Memandang nanar jeritan bulan
yang sedang lara di cengkraman awan
Tiga kucing berteriak pada angkasa
mengutuk awan yang ganas menyiksa
lalu sekejab hilang dalam gulita
Entah mengapa dan ke mana
3.
Bulan terang dan kucing ada cerita
Biasanya saat purnama mempesona
saatnya pesta kucing melukis asmara
Tetapi saat gulita diguyur hujan
kucing berteduh mengintip korban
Angin sejenak tak nampak wajahnya
Entah ke mana tak bisa diduga
karena pergi dan datangnya tanya
Apalagi rumahnya juga tak ada
4.
Pada malam aku bertanya
mengapa matahari jarang bicara
Pada gulita aku nantikan jawaban
kenapa setiap pribadi berbeda kesadaran
Pada bulan aku menunggu kesempatan
kapan purnama mau kisahkan
tentang angkasa, hujan dan awan
Pada diriku terusik pertanyaan
mengapa hukum alam berbeda dengan hukum manusia?
5.
Tiga kucing sekonyong datang
dari kegelapan berlindung di kolong
Sekonyong bersuara lirih meraung
Entah kedinginan ditusuk hujan
Entah kelaparan mencari mangsa
Entah masih marah pada awan
Entah meminta petunjuk gulita
Ataukah sedang menggugat tabiat manusia
dan iba pada korban bencana

