1.
Parade informasi ramai di sosial media
iringi langkah waktu yang pasti
bernyanyi dangdut di ruang dinamika misteri
Kenyataan pikiran bergelora di dasar samudra
yang tahu hanya pribadi pemiliknya
Ucapan mengejar larinya angin
tak semua terekam gadget
jadi konten sosial media
Fakta sesungguhnya tak mampu membohongi debu tanah
dan bersembunyi dari mata angkasa
Kebenaran manusia ditulis debu tanah
Keadilan insan direkam angin dan angkasa
Pribadi kita tak mampu membohongi nafas sendiri
Diri kita tak bisa menipu desir darah pribadi
Selama berziarah kelana di bumi ini
2.
Kebenaran sering terbuang dengan sampah
karena pemiliknya yakin bisa menyembunyikan
Tikus dan kecoa biasa menjumpai
kebenaran terkapar di tempat sampah
terluka parah di selokan dan bau tengik got mampet
bahkan ulat merobek sosoknya
dalam lubang-lubang tinja
Keadilan jadi gelandangan abadi
terbuang dari tempat upacara sakral
diusir dari ruang mewah ber-AC
disiksa dan dihina dari istana koruptor
Merana terbang dalam debu jalanan
hilang dalam kepulan asap polusi
Keadilan dan kebenaran malang nasibnya
dibutuhkan tetapi dihina dan dibantai
3.
Kebenaran seperti tinja peradaban
selalu dibuang dari kehidupan
setelah diucapkan di tempat sakral
dan mulut orang pandai yang tamak
serta pribadi busuk yang rakus
Keadilan jadi racun kaum tertindas
Seperti jarum runcing menusuk jiwa
dan silet tajam mengiris raga
mereka yang lara menderita tertindas
Banyak yang berdoa dan memohon
agar kebenaran turun dari langit
seperti derasnya guyuran hujan
padahal kebenaran ke luar dari hati nurani
Banyak yang menuntut keadilan tumbuh dari bumi
seperti benih tanaman di sawah ladang
padahal keadilan terlahir dari kesadaran nalar waras dan kebeningan sanubari
Zaman dihiasi aneka lakon sandiwara manusia
Entah sampai kapan?
4.
Kebenaran dan keadilan seperti siang malam
dari hari-hari pribadi kita manusia
yang berlari dalam putaran waktu
di bawah kolong langit angkasa
disaksikan sorot mata sang fajar
dan dipeluk erat telapak tangan bumi
Mungkin kita yakin bisa membohongi ulat, kecoa dan tikus
tetapi nafas diri tak pernah bisa ditipu
Mungkin kita percaya bisa membakarnya seperti sampah
atau membuangnya seperti tinja
Tetapi desir darah dan jemari tangan tak mungkin dibutakan kemunafikan dan kebodohan pribadi
Kita manusia cuma bagian kecil dari alam semesta
Tak mungkin lari dari debu tanah
asal raga yang membentuk diri
ruang ziarah yang memberi hidup
kuburan alam yang merangkul jazad
Kebenaran seperti kisah cerita kelana
keadilan bagaikan tulisan dan lukisan keputusan
Itu milikku, milikmu dan milik setiap pribadi kita

