1.
Kepulan asap rokok berlari pergi
setelah tinggalkan semangkuk nikmat di nafasku
Percik bara kretek bergurau dengan kelip bintang-bintang
Langit cerah setelah seharian hujan mengguyur
banyak kisah cerita nasib
ketika angkasa menangis curahkan perasaan
Aku teguk energi kopi pahitku
dari penjual bersepeda mengayuh nasib
Di wajah metropolitan yang pandai bersolek
seperti perempuan cantik berdandanan menor
diterpa gemerlap cahaya inovasi milenial
2.
Udara terasa sejuk dihembus sepi angin
Asyiknya menyendiri di tengah keramaian kota
karena di sini bukan kampung sanak keluarga
karena di sini bukan nuansa atau tradisi
karena di kota adalah medan pertempuran
karena kebutuhan dan kepentingan adalah energi keramaian
Maka jedah di bangku trotoar ini
adalah pilihan pribadi menyapa langit
Rehat di tepi jalanan ini adalah saat menghitung jejak langkah
dan berimajinasi akan berkelana ke mana esok
3.
Rokok terakhir berlari menuju puntung
apakah masih bisa dapatkan temannya lagi
untuk memberi inspirasi memandang langit
Kopi pahitku mungkin dua terus lagi mencapai ampasnya
untuk menyapa gulita menemani di trotoar
Aku tersenyum lirih dan angan mengajak berkelana
Jejak langkah seharian, kemarin dan waktu lalu
kutelusuri dan kutemui satu persatu
dan banyak yang terbang ditiup angin
yang lain hilang diguyur hujan panas
Aku sudah jadi aneka sosok apa
Aku telah jadi bermacam wajah siapa
Bahkan banyak yang tak aku sadari
jadi apa dan siapa
karena terhapus dari memori kesadaranku
4.
Perjalanan panjang angan berkelana malam rebahkan raga di bangku trotoar
Sempat kujumpai beberapa petani tembakau
duduk hening sahaja di pondok nasibnya
tak peduli harga tembakau hasil ladangnya
karena terbiasa harga ditentukan pemodal
Ternyata beberapa pemilik kebun kopi
yang hidup di dusun udik negeri
juga serupa dengan nasib petani tembakau
Selain panenan kopi dipakai untuk kebutuhan keluarga
harga kopi bukan urusan mereka
5.
Kudengar juga ada cerita lain
tentang deretan sosok pribadi berjasa
Para buruh pekerja pabrik rokok dan kopi
siang malam mengais nasib rezeki
tak mampu bersuara menuntut tambahan
terganjal kebutuhan dan kemampuan diri
Ada para sopir dan pedagang kecil
yang berjuang mencari selisih harga
dari menjual produk kopi dan rokok
sehingga bisa dinikmati para pembeli
termasuk untuk diriku malam ini
Mereka pandai dan bijak bersahabat dengan nasib
masih tersenyum dan harmoni dengan kebun ladangnya
Para buruh pabrik, sopir dan pedagang kecil
masih bersendau gurau dengan lara derita nasibnya
Pabrik, pasar dan harga jadi kuasa pemilik modal
6.
Nyamuk-nyamuk got mencubit wajahku
Aku terbangun dari kelana angan
aku tersadar dari ziarah mimpi
Malam makin larut dan dingin
kupanggil penjual bersepeda yang melintas
agar tambahkan sebatang rokok dan segelas kopi
Biar memberiku energi untuk merayu kesadaran
dan kuatkan langkahku berjalan pulang ke perteduhan
Kertas dan angka di tanganku
yang bisa membeli rokok dan kopi
ternyata pertemukan aku dengan barisan sosok nasib pribadi
Hidup seperti lakon sandiwara ajaib
7.
Kelana angan dan ziarah mimpi
mungkin serpihan kesadaran tercecer
di trotoar dan bangku jalanan
dari hiruk pikuk keramaian metropolitan
dan hening bijak di pelosok negeri
Banyak kisah cerita pribadi
ketika menanfsirkan ziarah mimpi
dan membaca jejak langkah ziarah diri
Dinamika kehidupan dicerna setiap pribadi
dengan percik bara api dan asap nalar
Makna ziarah kelana keputusan
mungkin bisa dirasakan dalam hitam pekatnya energi refleksi
dengan kesadaran hati sanubari
untuk mendandani diri pribadi

