1.
Aku kehabisan kata-kata
Ketika jiwa raga tak berdaya
seperti sehelai kapas terbang tinggi
terbawa angin beliung entah ke mana
Saat fakta masa lalu dan damba hari esok
melebur dalam luasnya samudra
terbawa ombak gelombang berkelana
Waktu pengalaman suka duka dihadirkan
seperti menonton wajahku di depan cermin
tak mampu aku mendustai fakta
Air mata menetes berlinang
Entah rasa bersalah tak berdaya
Entah rasa malu tak bisa bersembunyi
Entah rasa haru bahagia bangga
Entah rasa syukur penuh semangat
Hanya air mata yang tahu pasti
mengapa mengalir berlinang deras
2.
Rutinitas harian mengarahkan nalar
pada relasi sesama dan alam lingkungan
pada dunia luar dan tuntutan kebutuhan
pada apa yang jauh di seberang lautan
pada aneka tawaran informasi dunia maya di gadget
pada apa yang tinggi di atas angkasa
pada misteri-Mu Sang Ilahi Maha Tanya
Sehingga sering terlewat untuk pulang ke dalam
hening menelisik menyadari pribadi
Pada segenap anggota tubuh ini
yang menopang seluruh pribadi
Pada perasaan dan emosi diri
yang sering campur aduk tak tertata
Pada gelora pikiran dan pengetahuan
yang sibuk diarahkan ke dunia luar
Pada hati nurani yang menanti dijaga bercahaya
Pada sanubari jiwa yang menunggu dirawat bening segar harmoni
Aku ini apa dan siapa
sedang berkelana melangkah ke mana?
3.
“Carilah aku maka kau Kutinggalkan
Temukanlah aku maka kau Kulepaskan
Aku ada di dalam diri pribadimu
dan sekaligus melampaui segalanya
Engkau ada di dalam Aku
dan hanya serpihan dari Maha Ada-Ku
Yang harus engkau lakukan
hanya mengetahui dan menyadari adamu
dan bersyukur atas hadirmu
Karena mengenal diri sejati pribadimu
Apa dan siapakah dirimu
Mengapa dan untuk apa engkau hadir di bumi”
Merenungkan makna untaian kata di atas
Lahirlah deretan tanya mengusik
Siapakah Engkau Sang Maha Ada
Apakah Engkau udara bagi nafasku
dan darah bagi detak jantungku
Apakah Engkau kumpulan semua fakta pengalamanku
dan deretan segala tanyaku
Aku juga tidak tahu selengkapnya
apa dan siapakah diriku
Apalagi alasan mengapa terlahir dan untuk apa hidup
Apakah Engkau sumber air mataku yang mengalir deras?
4.
Dalam hening sunyi kepapaanku
Ketika jiwa raga telanjang di hadapan mata-Mu
Saat seluruh pribadi seperti debu di telapak-Mu
Ketika seluruh rindu damba kehendakku mendesah dalam nafas semesta
Waktu kegelapan nalarku disinari ajaib cahaya mata-Mu
Aku perlahan membaca kata-kata sabda-Mu
dalam butiran air mata yang mengalir
Aku perlahan insyaf akan keagungan-Mu
yang menggendong pribadiku setiap detik
Kasih-Mu sempurna tak bertepi
Cinta-Mu tak terbadingkan dasyat abadi
“Aku ini hamba-Mu dan ciptaan-Mu
Aku ini citra-Mu dan biji Mata-Mu
Meskipun sering kebodohanku menghalangi kesadaranku
dan kehendakku membelenggu imanku
Aku adalah cahaya kasih-Mu
Aku adalah sinar cinta-Mu
bagi sesama di tengah dunia
Jadikan aku selalu sadar dan mampu bersyukur
Terjadilah kehendak dan rencana-Mu
dalam seluruh ziarah kehidupanku”

