1.
Di tepi malam sunyi sepi
Angin semilir mendatangi pikiran
membawa karung besar kata-kata
yang terkumpul dari ucapanku waktu yang lalu
Entah di mana dan kepada siapa
Entah saat serius dan santai
Entah saat waras gembira dan waktu emosi amarah
Aku perlahan melihat satu per satu
sambil tersenyum lucu dan malu
karena rupanya angin nafasku setia merekamnya
Dan debu tanah serta angkasa melihatnya
sehingga aku tak bisa menipu
2.
Ada bermacam sosok ucapanku
Ada kata-kata yang baik dan bijak
ketika waras pikiran dan bening hati sanubari
Ada kata-kata berwajah buas legam
dihiasi emosi tak terkontrol
lantaran selera dan kepentinganku tak diperoleh
Ada kata-kata manis penuh tipu daya
karena menutupi kekurangan dan tampilkan gengsi
Bahkan banyak kata terucap
tanpa pikiran warasku dan bening hati sanubari
Ada juga kata-kata doaku
untuk memuji dan bersyukur
tetapi terbanyak kata permohonan
3.
Ada perubahan sosok wajah kata
sesuai kepentingan dan seleraku
serta siapa yang jadi kawan bicara
Kulihat sosok pribadiku ternyata berubah-ubah
sesuai selera dan kepentingan
sesuai gengsi dan tujuan diriku
Aku ternyata berkelana melukis diri
dalam kata-kata dan tindakan
dalam karya dan pilihan keputusan
Semua cerminan pikiran, hati nurani dan sanubari jiwa
Aku jadi apa dan siapa
bisa terlihat dari kata-kata ucapanku
Dan masih terus berubah dalam dinamika ziarah kelana
dengan harapan makin bijaksana
Dan kiranya sedikit kata banyak karya
4.
Malam makin larut pekat gulita
langit tak banyak bintang
purnama mungkin seminggu lagi
Namun mataku belum mengantuk
sayup terdengar anjing melolong
ada juga teriakan burung malam
entah apa pesan maknanya
Dan
aku teringat kata-kata sesama
ada yang jujur dan lugas isinya
ada yang manis tapi penuh kebohongan
ada juga kasar penuh emosi
Terbayang wajah yang mengucapkan
dan kuduga selera dan kepentingannya
Mungkin tidak jauh berbeda dengan diriku
Memang lidah tak bertulang
dan kejujuran kebenaran itu mahal

