Oleh: Fr. M. Christotorus, BHK
“Militiae spesies amor est”
(Cinta itu adalah sejenis pertempuran)
(Ovidius)
(Tulisan ini dipersembahkan untuk saudaraku ‘Bony Enggo’ yang merayakan pesta perak pernikahannya di bulan Oktober 2025).
Sebuah Botol dan Tutupnya
Suatu hari, seorang Raja sangat murka, karena ada sebuah Botol (pelayannya) yang isinya cenderung cepat habis. Ternyata, Botol itu memang tidak memiliki tutup. Konsekuensi logisnya, Botol yang tak bertutup itu dikeluarkan dari istana Raja.
Akibat dari stres dan rasa putus asa yang terus mendera dirinya, ia keluyuran untuk mengusir rasa sepi. Ia tiba di pesisir pantai berpasir indah. Karena dorongan hatinya yang selalu tergerak untuk berpelesiran ke sana.
Di atas pasir pantai nan sunyi, tampak olehnya seekor kepiting raksasa yang sedang asyik menyeret sebuah Tutup Botol berwarna putih indah.
Setelah dicermati dengan saksama, maka berserulah si Botol, “Hai, siapakah engkau?”
“Aku, Tutup Botol nan sendu. Aku dibantu oleh kepiting, karena ia kasian padaku. Aku selalu sendirian dan sedih menantikan kekasihku yang kini entah di mana.”
“Oh, begitukah, aku pun merasa turut berempati denganmu.”
“Ya, aku sedang mengembara mencari sebuah Tutup Botol demi keutuhan diriku. Karena aku hidup hanya seorang diri.”
“Ah saudaraku, jika memang demikian, kita berdua ibaratnya gayung bersambut,” sahut Tutup Botol terharu.
“Ya, jika memang demikian, kemarilah,” sahut Botol yang tak bertutup itu.
Maka, diraihnya Tutup Botol putih nan sepi itu dari cengkeraman si kepiting raksasa dan diletakkanya di atas kepalanya. Lalu perlahan diputarnya, dan ternyata, pass.
Serentak keduanya berseru, “Aku pun tak dapat hidup tanpa engkau.”
(Dari Berbagai Sumber)
Cinta Datang dari Mata lalu Turun ke Hati (Misteri Proses Cinta)
Perangai cinta itu laksana seorang pencuri, ia sering diam-diam mengintai musuh, lalu dicermati, direnung-renungkan, dipuja disayang, dan ia sangat ingin untuk memilikinya. Apakah itu cinta jenis ‘eros ataukah agape?’ Sesungguhnya, ia belum memahaminya secara mendalam. Karena bukankah semuanya itu justru membutuhkan sebuah proses panjang nan berliku?
Ya, karena bukankah proses mencintai itu membutuhkan suatu perjuangan? Karena ‘cinta itu adalah sejenis pertempuran,’ menurut Ovidius.
Saripati Nikah Kristiani
“Kamu bukan lagi dua, melainkan jadi satu daging. Karena apa yang dipersatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia (Sabda Agung dari Sang Maha Cinta).
Maka, sari pati misteri nikah secara Kristiani adalah sakramentalia, komitmen untuk sehidup semati, kesetiaan sempurna, dan prokreasi. Itulah tuntutan dari bunga-bunga cinta khas Kristiani. Sungguh, betapa kuatnya aura cinta itu.
“Air yang besar pun tak dapat melanda cinta, sungai-sungai pun tidak,” demikian kitab Kidung Agung.
Vivere Militare est
“Hidup itu adalah suatu perjuangan.” Sungguh benar, bahwa makna sejati dari adagium dasyat ini. Maka, cinta itu dapat diidentikan dengan bara api perjuangan nan membara. Artinya, cinta itu baru benar-benar disebut cinta, justru setelah ia rela melewati proses pembakaran dirinya. Laksana kadar emas yang harus diuji dengan api.
Kini saya mulai mengerti, bahwa betapa sulitnya perjuangan api cinta asmara antara Romeo -Juliet ciptaan William Shakespeare, sastrawan Inggris. Keduanya jatuh cinta, tapi keduanya berasal dari kedua suka yang justru bermusuhan. Cinta keduanya berakhir tragis setelah keduanya rela untuk mati bersama. Atau sebuah kisah cinta sejati dari tanah Jawa, antara Pronocitro dan Roro Mendut, yang juga berakhir tragis?
Proses Cinta Sejati itu ibarat Menaiki Sebuah Anak Tangga
Cinta itu sungguh berproses antara jatuh dan bangun. Antara setia dan ingkar. Antara hidup dan juga rela untuk mati. Tapi percayalah, jika, Anda sungguh berkomitmen, dewasa, tahan banting, dan setia seumur hidup, maka ‘cinta sejati itu, justru telah mampu mengalahkan segala-galanya’ (Amor Omnia Vincit), kata orang Latin.
Bahkan, jika keduanya sanggup untuk bertahan, rela menderita bersama, saling memaafkan, dan memahami satu sama lain, maka dari sanalah cinta itu akan berbuah lebat alias ‘cinta akan melahirkan cinta lagi’ (Amor Gignit Amorem).
Refleksi
- Maka, lewat sebuah refleksi panjang usia pernikahan yang dapat mencapai 25 tahun alias pesta perak adalah sebuah prestasi dari kedua insan, suami dan istri.
- “Jika kita saling cinta, maka Allah pun hadir!”
- Aku tidak bisa hidup tanpa dan denganmu.
(Ego non sine te nec tecum vivere possum). - Itulah misteri dari sebuah tutup botol cinta.
Kediri, 30 Oktober 2025

