Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Surat buat Mama Reti,
Mama, saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi, jangan menangis, ya, dan jangan mencari atau merindukan saya.
Selamat tinggal Mama.”
(Sepucuk surat bertulis tangan dari anak YBR)
Ekspresi Rasa Pilu di Dada Duka ini
Tulisan bernada pilu ini mengalir dari sudut nurani sadarku sebagai sebentuk rasa prihatin dan empati demi turut berbelasungkawa atas kepergian seorang anak kecil berusia 10 tahun dengan inisial YBR di Ngada, Flores, NTT.
Sebuah Komentar dari Bapak Gubernur NTT
“Ada anak SD di NTT bunuh diri karena kemiskinan. Pak Prabowo paling marah model begini.”
Komentar dari Bung Rocky Gerung
“Anak 10 tahun ini memilih sebuah jalan yang sangat rasional sekalipun berkonsekuensi. Ia pun memilih ‘bunuh diri’ demi meringankan beban hidup Ibunya dan kelima orang adiknya.”
Surat untuk Tuhan
Bung Bhuan
Tuhan, hari ini aku datang dengan tangan gementar dan hati remuk berkeping-keping.
Bolehkah aku bertanya, Tuhan? Apakah Engkau melihat anak itu? YBR, putra kecil-Mu di Ngada, NTT, yang baru berusia sepuluh tahun, ia tidak meminta tahta, ia tidak meminta emas. Ia hanya ingin sebatang pena dan beberapa lembar buku untuk menuliskan masa depannya.
Ke manakah Engkau saat ia menggambar dirinya sendiri sedang menangis sebelum ajal menjemput?
Hatiku sedih, Tuhan. Negara ini sedang mempertontonkan sebuah teater kegilaan. Mereka suka memberi makan orang yang sudah kenyang daripada memberi alat tulis pada mereka yang haus akan ilmu. Ini bukan lagi kebijakan, ini adalah pembunuhan sistematis terhadap martabat anak bangsa.
Aku percaya, pengadilan-Mu tidak pernah salah alamat
Tanjung Pinang
O4/O2/26
Trending Topic
“Seorang anak sepuluh tahun mengambil cara dengan jalan bunuh diri, karena kemiskinan!”
Inilah sebuah isu yang paling hangat, aktual, dan memilukan dada batin kita selaku sesama warga serta anak bangsa. Saya pun sempat teringat akan kata-kata bernada bariton dan sikap percaya diri dari Presiden Prabowo, bahwa Indonesia adalah salah sebuah negara yang paling bahagia di dunia saat ini dan kini. Tentu saja, statemen ini tidaklah terlepas dari suara-suata antara pro maupun kontra yang kian berseliweran serta berhembus kencang di atas ubun-ubun kepala kita.
Fenomena yang dapat Membuyarkan Harapan dalam Menyongsong Indonesia Emas
Adalah sebuah ironi paling besar, bahwa ketika bangsa besar ini, kini sedang dengan bangganya membusungkan dada rasa bangga akan kemakmuran negara yang sudah berada di depan mata, namun ternyata masih ada Ibu dan anak yang justru tidak memiliki apa-apa demi membahagiakan hidup serta masa depan sang anak sekarat ini?
Akhirnya semua pihak pun mulai angkat suara, berbicara antara rasa prihatin, sedih, marah, kecewa, dan putus asa.
Prihatin, bahwa si kuncup muda alias tunas bangsa ini, justru memilih cara drastis dengan bunuh diri. Sedih, ya, kasikan, mengapa harus begini akhirnya? Marah, ya bahkan sangat marah kepada para penguasa: desa, institusi agama, kecamatan, kabupaten, dan provinsi yang justru tidak mengetahui akan kondisi kemiskinan keluarga ini. Juga rasa kecewa kita kepada Ibunya yang tidak cerdas menanggapi permintaan sang anak.
Refleksi
- “Ini dosa siapa? Ini salah siapa?”
- “Bolehkah aku bertanya, Apakah Engkau melihat anak itu?”
- “Aku percaya pengadilan-Mu tidak pernah salah alamat!”
“Homies Sumus, non Dei”
“Kita ini Manusia Lemah, bukan Dewa
(Petronius)
Kediri, 5 Februari 2026

