Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Anda tidak akan terbang tinggi bersama rajawali, jika berjalan dengan gerombolan ayam kalkun.”
(Daud I. Ufi)
Hidup Manusia Bergulir lewat Proses Panjang: antara Bahagia dan Sengsara
“Hidup berbahagia atau sengsara bagi masa depan seorang anak manusia,” antara lain dapat ditentukan lewat: (a) pendidikan dan pembiasaan yang baik dari lingkungan keluarga, (b) pendidikan formal dari lingkungan sekolah, (c) dan lewat ajang pergaulan di dalam lingkungan masyarakat. Idealnya, bahwa lewat ketiga buah wadah sosial ini, maka seorang manusia dapat bertumbuh dan berkembang jadi sesosok pribadi ideal atau bersengsara.
Sungguh, sudah sangat diyakini oleh masyarakat, bahwa proses pendidikan dan pembentukkan jati diri seorang anak manusia pun akan berlangsung sepanjang hidupnya (long life education).
Wadah-wadah Utama Pembentukkan Karakter Seorang Manusia
Sungguh tidak dapat diingkari, bahwa terdapat setidaknya “tiga buah wadah utama” sebagai tempat pembentukkan katakter bagi seorang anak.
Adapun ketiga wadah itu, antara (a) wadah keluarga, (b) wadah sekolah, (c) wadah lingkungan pergaulan. Dari ketiga wadah ini, idealnya harus saling mengisi dan melengkapi. Namun, harus diakui pula, bahwa riilnya, ada wadah yang justru lebih dominan yang bahkan sanggup mengalahkan kedua wadah lainnya.
Wadah Lingkungan Pergaulan
Lewat tulisan refleksi ini, saya mau menampilkan, bahwa sungguh, betapa kuat dan dominannya ‘wadah lingkungan pergaulan,’ sebagai tempat pembentukkan kepribadian seseorang.
Sebuah Lompatan yang Mencengangkan Nurani
Atta, seorang arsitek cerdas asal negeri Mesir. Berkat kecerdasannya, ia dapat melanjutkan pendidikan di Jerman. Namun di suatu saat, ia menggabungkan diri dengan kelompok garis keras. Nah, di dalam wadah baru itu, ia mulai berubah secara drastis. Ia jadi sesosok pribadi yang ekstremis, dan bahkan salah seorang penggagas serta ‘actor intellectual’ dalam tragedi 11 September 2001 di Amerika Serikat.
Sungguh, ternyata betapa kuat dan dominannya pengaruh sebuah lingkaran serta lingkungan pergaulan bagi seseorang. Justru lewat wadah pergaulan inilah, maka seseorang dapat melompat secara ekstrem dan berubah haluan hidupnya secara drastis pula.
Sungguh benar pula, nasihat bijak dari sang arifin, bahwa Anda akan doyan menggosip, jika bergaul akrab dengan si penggosip. Anda akan jadi sosok pemalas, jika setiap saat bermalas-malasan bersama si bantal iblis. Juga sebaliknya, akrabilah dengan sosok si bijak bestari, maka Anda akan jadi sesosok pribadi yang bijaksana.
Refleksi
Akan jadi apakah Anda kelak, semuanya itu sangat bergantung dari sikap hidup Anda sendiri, bukan?
Tentu, di suatu saat kelak, Anda pun akan sadar, bahwa sesungguhnya, siapakah Anda?
Apakah Anda itu sebagai seorang pemenang sejati, ataukah hanyalah si pecundang yang tak tahu diri?
“Manusia, oh, manusia, siapakah engkau sejatinya?
…
Kediri, 19 Oktober 2025

