Oleh: Fr. M. Christpforus, BHK
“Kunjungan Paus Leo XIV ke Iznik membuat mata dunia tertuju ke situs itu. Kunjungan itu diharapkan dapat mengukuhkan Iznik sebagai tujuan ziarah, seperti kota kuno Efesus.”
(Kompas, 29/11/2025 kolom Internasional)
Turki adalah Jembatan
Turki bagaikan sebuah permata, yakni jembatan historisitas, religi, dan perjumpaan antar kultur serta kemanusiaan. Sebagai sebuah negeri titian emas antara kultur Timur dan Barat, antara Eropa dan Asia.
Iznik hanyalah sebuah kota kecil di Turki. Terlepas dari ukurannya, kota itu memiliki peran penting dalam sejarah agama Kristen. Di sanalah tempat kelahiran Kredo Nikea, pernyataan iman Gereja Katolik.
Mehmet Aki Agca (67) telah tiba di Iznik. Dengan semangat, ia bersiap-siap untuk menyambut Paus Leo XIV yang akan tiba di kota kecil itu pada Jumat (28/11/2025). Demikian isi paragraf kedua dan ketiga tulisan (AFP/LSA) Kompas, Sabtu, (29/12025) kolom Internasional berjudul, “Iznik, Kota Kelahiran Kredo Nikea, dan Kunjungan Paus.”
Antara Kota Iznik dan Mehmet Ali Agca
Paus Leo XIV justru memilih negeri Turki dan Lebanon sebagai tempat pertama untuk perjalanan Apostoliknya. Kota Iznik terletak sekitar 140 Km sebelah tenggara Istambul. Kota itu dulu disebut Nikea, tempat para pemimpin Gereja awal dari seluruh dunia mengadakan Konsili Nikea untuk menyelesaikan perselisihan teologis di bawah perintah Konstantinus I, Kaiser pertama Romawi Kristen.
Di kota inilah Konsili melahirkan Kredo Nikea. Lewat Kredo inilah Gereja Katolik mewartakan inti kepercayaannya hingga saat ini. Di tempat inilah lahir sebuah pernyataan terpenting bahwa ‘Yesus setara dengan Allah Bapa.’ Peristiwa historis dan religi ini telah berusia 1.700 tahun yang terjadi di kota Iznik ini.
Siapakah Mehmet Ali Agca itu? Ia adalah sosok penembak Paus Yohanes Paulus II di Lapangan Santo Petrus, pada Mei 1981. Peristiwa ini berdampak Paus terluka parah. Dia akhirnya dipenjarakan dan mendapatkan pengampunan dari Paus Yohanes Paulus II.
Kedatangannya ke Iznik berintikan kerinduannya agar ia dapat duduk dan berbicara dengan Paus Leo XIV walaupun hanya selama dua atau tiga menit.
Setelah selama 29 tahun ia berada di balik jeruji besi di penjara Italia yang sesuai keputusan pengadilan yang semula ia akan dipenjarakan seumur hidupnya.
Spirit dan Esensi Dasar Tulisan ini
Tulisan ini tidak bertujuan melaporkan kronologisasi dari perjalanan Apostolik Paus Leo XIV. Namun sebagai sebuah “refleksi rohani spiritual” atas perisriwa historis dan religius ialah “Konsili Nikea,” yang melahirkan Kredo bagi Gereja Katolik dan “kerinduannya Mehmet Ali Agca untuk berjumpa dengan Paus Leo XIV.”
Antara: Tempat Kelahiran Kredo, Peristiwa Berdarah, Spirit Pengampunan, dan Perdamaian
- Itulah “spirit sentral serta roh utama” dari tulisan ini. Bahwa tempat ini sebagai awal mula lahirnya sebuah Kredo yang kini selalu diucapkan oleh lebih dari satu miliar umat Katolik sejagad.
- Sri Paus Yohanes Paulus II terluka berdarah-darah akibat ditembak oleh Mehmet Ali Agca.
- Namun di balik peristiwa kekerasan yang berdarah-darah itu, justru berdampak melahirkan sebuah tindakan dasyat, ialah sikap pengampunan yang diberikan oleh Paus kepada Mehmet.
- Sikap pengampunan itu, justru melahirkan sebuah kesadaran dan pertobatan sejati di dalam hati manusia yang kesalahannya telah dimaafkan.
- Untuk pribadi yang kesalahannya telah dimaafkan itu, secara psikologis, tentu akan merasa lega terbebaskan dari belenggu kesalahannya.
- Dari sanalah akan melahirkan sikap perdamaian.
Semua Bersumber dari dalam Hati Manusia
Bukankah segala sesuatu itu akan ‘bermula, berproses, dan juga berakhir di dalam hati manusia?’ Karena hati itu sebagai pusat kesadaran seorang anak manusia.
Lewat ketulusan hati dan lawatan Apostolik Paus Leo XIV ke kota Iznik (Turki), dan dari sana pula lahirlah sikap persatuan serta perdamaian antar umat manusia di bumi ini.
Bukankah hati manusia merupakan sebuah titian emas menuju sikap perdamaian sejati…
Refleksi
“Deus Caritas est!”
(Allah adalah Kasih)
“Amor Gignit Amorem”
(Cinta Melahirkan Cinta)
Kediri, 1 Desember 2025

