Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Aku mengutus kamu
bagai domba di tengah serigala.”
(Yesus Kristus)
Hidup dan Pelayanan
Jika dinamika kehidupan ini dapat dimaknakan juga sebagai sebentuk “karya pelayanan kepada sesama manusia,” maka tidaklah mustahil, bahwa dunia mutlak membutuhkan orang-orang yang siap untuk diutus demi sebuah karya pelayanan.
Kisah Raja dan Elang Rajawali
Ada seorang Raja yang gemar memelihara berbagai jenis burung di istananya. Di suatu malam, Raja itu tampak sangat gelisah, karena ia berniat akan mengutus seekor burung paling cerdas ke sebuah wilayah yang paling nyaman dan aman, sebelum ia akan berekspansi ke wilayah baru itu. Namun, kegelisahannya itu kian memuncak, ketika ia belum menemukan jenis burung mana yang akan diutusnya.
Dengan dahi berkerut dan pikiran yang sangat kacau, dibukanya gerbang istana. Seketika itu juga, tampak olehnya, seekor burung Elang Rajawali yang sedang mendongakkan kepalanya ke angkasa.
Maka, dengan tanpa berpikir lebih panjang lagi, didekatinya Elang Rajawali itu sambil ia berkata, “Saya akan mengutusmu, untuk pergi dan mencari sebuah wilayah yang paling aman dan nyaman di negeri ini. Karena saya berniat akan berekspansi ke sana.”
“Tuan, mengapa justru saya yang akan Tuan utus?” sahut Elang Rajawali itu.
“Aku mengutus kamu? karena dua buah alasan berikut ini. Satu, kamu adalah jenis burung, jika terbang, justru paling tinggi. Kedua, kamu adalah jenis burung yang sangat berani untuk terbang seorang diri.”
Setelah mendengar penjelasan dari sang Raja, maka sahut Elang Rajawali itu, “Jika memang demikian, maka saya siap untuk diutus.”
Seketika itu juga, ia merentangkan kedua kepak sayapnya dan segera mengangkasa ke langit biru.
(Dari berbagai Sumber)
Siapakah yang Siap Diutus?
Ada sebuah prinsip hidup yang sangat mulia, bahwa “Hidup yang dibaktikan dan dipersembahkan adalah sebentuk hidup yang paling bermakna.” Artinya, dalam konteks ini, bahwa orang-orang yang sangat berani, sekaligus rela memberikan dirinya. Mereka rela berkorban demi melayani sesama manusia.
Berani Melupakan dan Mengingkari Diri Sendiri
Ternyata dunia edan dan kehidupan yang gila ini telah sanggup membuktikan, bahwa idealisme ini, bukanlah sekadar sebuah isapan jempol. Artinya di belahan bumi ini, tidak sedikit orang-orang yang telah sanggup mewujudkan cita-cita hidupnya berupa panggilan untuk hidup yang sangat khas dan khusus ini.
Masih ingatkah kita pada seorang Biarawati, Mother Theresa dari Ordo Cinta Kasih yang telah mempersembahkan totalitas hidupnya demi kaum miskin di bumi India? Bukankah dia kini telah bergelar Santa dan sebagai seorang pahlawanti kemanusiaan?
Manusia Berkaul dan
Bernazar
Demikian pula, kini hadir ratusan bahkan ribuan Biarawan-biarawati di seantero dunia yang telah mempersembahkan dirinya seumur hidupnya demi sesama manusia? Mereka sesuai iman dan keyakinannya telah bersumpah kepada Tuhan lewat tri kaul:
() kaul kemurnian, () kaul ketaatan, dan
(*) kaul kemiskinan.
Panggilan dan Perutusan itu sangat Bervariasi
Namun m model kehidupan yang dipersembahkan, tentu tidak selalu bermakna, bahwa seseorang itu harus hidup berkaul dan bernazar? Tidak!
Anda dan saya juga dapat mempersembahkan diri demi membangun sebuah keluarga, misalnya sebagai seorang suami atau istri di dalam sebuah keluarga ideal. Bisa juga jadi seorang Guru atau Dokter yang berbakti secara profesional dengan hidup tanpa berkaul.
Bukankah pada dasarnya, bahwa semua orang itu dipanggil dan diutus sesuai apa pun profesi hidupnya?
“Kamu adalah saksi-Ku hingga ke ujung dunia,” sabda Tuhan.
Kediri, 12 Juli 2025

