Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Melupakan jasa baik
seseorang adalah sebuah pengkhianatan.”
(Didaktika Hidup Adab)
Sepi Ditinggalkan
Tampak sebuah kursi tua, reot, dan berdebu teronggok sepi di sudut sebuah rumah tua. Di sana-sini juga tampak ribuan ngengat yang sedang asyik mengerat lengan-lengan kursi yang tampak mulai melapuk.
Menyaksikan sebuah pemandangan yang sangat mengharukan hati itu, tampak juga seorang anak remaja tanggung yang tampak terharu menatap pada rongsokan warisan itu.
Mengapa demikian? Ternyata, dulu kursi sepi nan tua itu adalah kursi empuk kebanggaan dan kesayangan Kakeknya.
Ia tertunduk dan membungkukan tubuh jangkungnya sambil menatap tajam pada butiran debu sambil jemarinya lincahnya menuliskan seuntai kalimat, “Kek, bolehkah cucumu duduk di kursi tua milikmu ini?”
Sesaat setelah ia menggoreskan ujung tajam jemarinya di atas tumpukan debu itu, ia pun pergi sambil menantikan sahutan sang Kakek.
Ketika ia kembali, dilihatnya ada sebuah coretan lain di sampingnya, “Cucuku, relakah kau untuk duduk di atas sebuah kursi reot dan berdebu?”
Menyaksikan seuntai kalimat mati dan beku yang tercoret kaku di atas sebuak kursi reot berdebu, betapa ia tertegun ragu-ragu. Kini nurani polosnya mulai turut meragu.
Antara Permohonan dan Pengabulan
Hukum kehidupan telah mengajarkan kita, bahwa ‘mintalah, maka engkau akan diberi.’ Walaupun tidak selamanya, pemberian itu akan selalu sesuai dengan harapan. Itulah kenyataan di dalam hidup ini.
Bukankah sebuah pemberian adalah sebuah balasan atas permohonan? Bersyukurlah, jika ternyata permohonan itu dikabulkan. Bersyukurlah juga, jika ternyata tidak dikabulkan. Karena bukankah seseorang akan bebas untuk bersikap atas sebuah permohonan?
Mengenang Jasa Para Pendahulu Kita
Sang kebaikan dan kebijaksanaan telah mengajarkan kita, bahwa ‘hendaklah kita tidak segera melupakan jasa baik sesama kita.’ Kenanglah sebuah jasa baik juga dengan sebuah kebaikan. Itulah makna dari hukum keadilan.
Sang Cucu di dalam refleksi di balik tulisan ini adalah semua pihak yang menerima warisan dari para pendahulu kita. Kitalah penerima warisan itu.
Semoga dari balik tulisan ini, bertumbuhlah spirit keadilan di dalam nurani kita. Warisilah sebuah peninggalan dengan penuh cinta. Tanamkanlah spirit dan visi hidup dari pendahulu kita di dalam nurani tulus kita.
Salam kompak dan setia selalu!
“Jasmerah.” Jangan sekali-kali melupakan sejarah!
Kita bukanlah ibarat sebuah kursi patah itu!
Wolotopo/Ende, 19 Juni 2025

