Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Kebenaran itu bagaikan sebingkai cermin retak, jika masing-masing pihak melihat kebenaran berdasarkan serpihan cermin yang mereka pandangi.”
(Anonim)
…
| Red-Joss.com | Cermin retak, ya tentang sebingkai cermin retak! Dalam konteks ini, orang Yunani-Latin punya adagium, “Nosce Te Ipsum” artinya “Kenalilah Dirimu!” Frase mondial tersohor ini, terpampang di pintu masuk Kuil Apolo, di Delphi, Yunani.
Apa makna sentral serta dampak ekstremnya, jika Anda dan saya, ternyata “bercermin dan bersolek ria, justru pada sebingkai cermin retak?”
Sang arifin pun pernah bertutur, bahwa segala sesuatu, apa pun bentuk serta aksinya, membawa “makna serta dampak.”
Ternyata bercermin pada sebingkai cermin retak itu hasilnya tidak sempurna. Karena dia akan memantulkan bentuk yang tidak utuh. Serpihan kaca retak itu akan meretakkan pula pantulannya kepada Anda.
Secara filosofis serta konotatif, saya pun menyimpulkan, bahwa sungguh riskan, jika Anda, saya dan kita semua berani menyimpulkan suatu persoalan besar dengan tanpa kita ketahui duduk persoalan sebenarnya.
Frase cermin retak, โdas sein und das sollen,โ ada kesenjangan antara harapan serta kenyataan. Ada benturan antara hal yang normatif dengan sebuah fakta.
Bercermin pada cermin retak adalah sebentuk proses instrospeksi diri. Di dalamnya, terkandung sebuah amanat agung, bahwa jika Anda ingin memahami, mengetahui, mengerti, serta dapat menghayati suatu secara baik dan benar, maka hendaklah Anda, bercermin pada sebingkai cermin utuh!
Lewat dan dari balik idiom ‘cermin retak’ kepada kita mau disuguhkan sebuah ‘didaktika hidup.’
“Janganlah Anda dan saya, bercermin pada sebingkai cermin retak!”
…
Kediri,ย 15ย Juniย 2023

