Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Laksana sebatang lilin di gurun, mungil namun memukau.”
(Anonim)
…
| Red-Joss.com | Pada tahun 1971-72, saat saya masih berstatus sebagai siswa SMP Seminari di Flores, NTT saya teringat pada ucapan seorang misionaris Eropa, “Hari ini, kamu masih sebagai anak kecil. Jika nanti kamu sudah menjadi misionaris di mana pun, hendaknya kamu menjadi seperti sebatang lilin di gurun.”
Di saat saya menuliskan kembali kenangan akan ucapan ini, rasanya kalimat itu baru diucapkan kemarin. Semua masih terasa segar dalam ingatan saya dan masih sungguh bermakna.
Mengapa sebatang lilin mungil ditempatkan di gurun yang sepi, luas terbentang, panas membara di siang hari, serta dingin mencekam di gulita malam? Apa maknanya? Apa pula filosofinya bagi kita?
Mengapa sebatang lilin mungil tidak ditempatkan saja di altar gereja atau di altar sebuah wihara yang nyaman serta aman dari gangguan?
Ternyata, sesungguhnya Andalah sebatang lilin mungil di gurun kersang kelam itu!
Hendaklah Anda, kita semua dapat menjadi sebatang lilin mungil di gurun kehidupan kita hari ini. Si mungil yang mampu memberi cahaya terang!
Gurun itu ibarat suatu medan berat. Kita hidup dalam keluarga, tempat kerja, komunitas, organisasi keagamaan, atau dalam instansi pemerintah atau swasta. Di sana dibutuhkan sebatang lilin mungil. Karena, Andalah lilin mungil itu!
“Hendaklah kamu, menjadi garam dan terang dunia!”
…
Kediri, 19 Juni 2023

