Oleh: Peter Suriadi
Sebuah patung kayu Bunda Maria Pengharapan setinggi 145 cm menghiasi Basilika Santo Petrus Vatikan pada Masa Natal ini. Menggendong Bayi Yesus dan sebuah sauh besar, patung Maria ini mengingatkan kita pada pengharapan sebagaimana digambarkan dalam Kitab Ibrani (6: 19-20): Pengharapan itu sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, dengan jadi Imam Besar sampai selama-lamanya, menurut aturan Melkisedek.
Mendiang Paus Fransiskus sangat tergugah oleh gambaran pengharapan sebagai sauh. Beliau membicarakannya berkali-kali selama masa pontifikasinya. Saat membuka pintu suci di penjara Roma tahun 2024, beliau mengatakan, “Saya suka memikirkan pengharapan sebagai sauh yang berada di pantai dan dengan tali tetap berada di sana kita aman, karena pengharapan kita seperti sauh di daratan.
“Jangan kehilangan pengharapan.” Inilah pesan yang ingin saya sampaikan kepada diri sendiri, kamu, kita, dan semua orang. Jangan kehilangan pengharapan. Karena pengharapan itu tidak pernah mengecewakan. Terkadang tali itu keras dan menyakiti tangan kita. Tapi dengan tali itu, selalu dengan tali di tangan, memandang pantai, sauh membawa kita maju. Selalu ada sesuatu yang baik, selalu ada sesuatu yang membuat kita terus maju.
Patung Bunda Maria Pengharapan berasal dari Paroki Santo Markus Penginjil di Provinsi Salerno. Patung Bunda Maria Pengharapan dibuat oleh Bengkel Stuflesser pada tahun 1954 untuk memperingati Tahun Maria yang dicanangkan oleh Paus Pius XII. Patung tersebut dipugar untuk perayaan Yubileum.
Patung tersebut sangat dihormati oleh 1.300 penduduk dusun San Marco. Banyak wisatawan yang memadati dusun tersebut selama musim panas.
Pesta Santa Perawan Maria Pengharapan dirayakan pada hari Minggu terakhir bulan Agustus dan merupakan satu-satunya pesta Maria yang didedikasikan untuk Bunda Maria Pengharapan di Keuskupan Vallo della Lucania. Sebuah prosesi pada pestanya berakhir di pelabuhan, tempat para nelayan mempercayakan diri mereka kepada Bunda Maria.
…
(Bapak Peter Suriadi)

