“Berani menerima kenyataan pahit dan mensyukurinya adalah anugerah Allah, karena hidup itu hikmat.” – Mas Redjo
…
“Disyukuri dan dinikmati saja, Pakdhe, jika semua ini jadi jalan hidupku,” kata Ibu muda, NN sambil tersenyum getir, ketika saya menanyakan perkembangan Mas TK, suaminya yang terkena stroke. Ia mencoba tabah dan ikhlas.
Saya diam. Hati ini serasa ditohok perasaan aneh. Keharuan mengusik jiwa. Kesadaran Ibu muda itu untuk berani menerima kenyataan pahit dan mensyukurinya membuat saya salut dan takjub.
Bagaimana tidak. Ibu muda yang berputera dua orang itu rela hati untuk mengambil alih tugas suami yang terkena stroke sejak setahun lalu. Berhati tegar untuk menafkahi keluarga!
Padahal, maaf, dari penuturannya dan pelanggan saya yang kenal dengannya. Ibu muda itu sering digosok oleh saudara dan teman-temannya untuk pisah dari suami alias bercerai, ketimbang dibebani suami dan tidak dinafkahi. Tapi apa jawaban NN?
“Menikah lagi itu perkara mudah, tapi tidak menyelesaikan masalah. Sebaliknya menambah masalah baru dan hidup ini jadi makin kusut.”
Saya mencoba menelaah antara kata dan sikapnya itu. Pada sorot matanya itu memancarkan hati nan tulus mengasihi keluarga.
Bagi NN pernikahan itu menghidupi komitmen, konsekuensi untuk menjalani resiko, dan bertanggung jawab terhadap pernikahan suci. Apa pun alasannya, perceraian itu dibenci Tuhan!
Sesungguhnya dengan bersikap setia pada pasangan itu mampu membuka pintu anugerah Tuhan. Buktinya, ketika NN mengambil alih tugas suaminya, rezeki keluarga pun mengalir lancar.
Sesungguhnya, keikhlasan hati NN itu membuat saya ingat kisah Rut dan Naomi yang ditinggal mati oleh suami mereka. Meski Rut diminta untuk meninggalkan Naomi, Ibu mertuanya, tapi tetap ingin bersama, dan mengopeninya (Rut 1: 1-17).
Wanita-wanita tangguh yang setia dan menginspirasi. Menyimpan perkara dalam kerendahan hati untuk memahami kehendak-Nya.
“Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.”
…
Mas Redjo

