Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
“Jangan pernah takut untuk melangkah. Jika kita berada di jalan yang benar, Tuhan dan sejarah akan berada di pihak kita.”
(Megawati Sukarno Putri)
…
Dengan mengusung keyakinan ‘Satyan Eva Jayate’ atau Kebenaran Pasti Menang, Megawati menekankan, bahwa “Perjuangan tidak hanya soal hasil akhir, tapi juga tentang bagaimana nilai-nilai kebenaran dan integritas ditegakkan sepanjang perjalanan.” Demikian narasi Ibu Megawati yang tertulis dalam paragraf pembuka pidatonya pada Hut ke-52 PDIP, Kompas, Senin (13/1/2025).
Nilai Kebenaran dan Sikap Beintegritas
Di depan para simpatisan, anggota, dan kader PDIP, beliau juga menekankan pentingnya kita memegang teguh filosofi ‘Satyam Eva Jayate’, (Sansekerta) yang bermakna Kebenaran pasti menang.
Lewat orasinya yang berapi-api, beliau sungguh menekankan bahwa kebenaran itu adalah bagai fondasi bangunan yang tak tergoyahkan.
Lewat tulisan ini, saya menegaskan, bahwa sungguh amatlah penting, jika dalam hidup dan perjuangan ini, kita pun memiliki filosofi hidup yang dapat menyadarkan kita untuk terus berjuang di jalan yang benar.
Mengapa? Lewat dan di balik sebuah filosofi serta semboyan hidup, kita akan bangkit dan berjuang secara jujur, tulus, setia, bertanggung jawab, dan berintegritas sebagai ekspresi dari kekokohan hidup kita. Bahkan sekalipun hidup kita bagai menyerempet bahaya (vivere pericoloso), kita akan menang.
Bu Megawati juga menegaskan, bahwa pentingnya sebagai warga negara, kita memiliki moralitas dan sikap berintegritas di dalam perjuangan ini.
Apa yang Sangat Kita Perlukan?
Hal dan prinsip dasar yang sangat mutlak diperlukan ialah membangun sikap batin serta nurani bersih sebagai pondasi dasar keimanan dan jati diri kita.
Tanpa sikap batin dan nurani bersih yang ditopang oleh sikap jati diri sejati, sebetulnya kita laksana sang biduk yang tengah dipermainkan gelombang zaman edan ini.
Dalam kondisi yang serba tidak pasti terombang-ambing itu, kita akan mudah terpeleset dan terseret ke dalam jurang aneka godaan: ambisi untuk berkuasa, sikap manipulatif, dan gila hormat.
Konklusi
Marilah dengan saksama kita mencermati dan merefleksikan suasana hidup serta kondisi riil bangsa kita yang memang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja ini!
Mengapa justru demikian memprihatinkan keadaan bangsa kita?
…
Kediri, 16 Januari 2025

