“Menerima realita, mensyukuri, dan menikmati hidup ini tanpa beban. Karena hidup ini adalah saluran berkat Tuhan.” -Mas Redjo
…
Sebaliknya peristiwa hidup yang tidak disyukuri dan direfleksikan membuat jiwa ini berbeban berat dan sakit.
Karena percaya dan mengimani Tuhan Yesus, saya tidak menolak, berontak, dan apalagi mengingkari peristiwa pahit yang tidak berkenan di hati. Tapi saya satukan dengan korban salib, karena hidup ini milik-Nya.
Bahkan hingga di senja usia ini saya terus menerus belajar untuk berjiwa besar dan mensyukuri hidup ini tanpa mengeluh, komplain, atau nyinyir. Kecuali diam mensyukuri untuk taat dan setia kepada-Nya.
“Semua adalah kehendak-Mu, dan aku ini milik-Mu.”
Sebagai legioner, saya meneladani Bunda Maria untuk menyimpan semua peristiwa hidup itu di kedalaman hati. Tanpa bertanya dan mengeluh, kecuali taat untuk menjalani penuh syukur.
Begitu pula, di saat saya tergolek sakit, salah seorang dari anak saya menanyakan hak waris. Saya kaget. Barangkali takut tidak kebagian?
Saya tidak emosi, kecuali menghela nafas panjang. Saya tidak berontak, kecuali menyerahkan perkara itu kepada Tuhan yang anugerahi hidup ini.
Seharusnya anak prihatin dengan keadaan saya, nyatanya tidak. Apakah ini ujian dari-Nya? Saya percaya, Tuhan menguji tidak melebihi batas kekuatan kita.
Padahal saya telah menanamkan sifat kepedulian pada anak itu sejak dini. Nyatanya? Anak terpengaruh pergaulan, karena kos di luar kota?
Ketimbang berprasangka buruk pada orang lain, lebih bijak mawas diri dan menyerahkan kekhawatiran itu pada Tuhan. Saya tidak mau diteror anak yang minta warisan itu membebani dan menyiksa jiwa ini.
Anak diciptakan Tuhan dengan kehendak bebasnya. Sebagai orangtua, tugas saya adalah membimbing, mengingatkan, menguatkan, dan meneguhkan hatinya. Untuk selalu mengingatkan anak tanpa lelah, karena mengasihi. Mendoakan yang terbaik untuk mereka.
“Hak waris kalian ada di notaris. Kalian tidak usah khawatir,” kata saya mencoba bersikap tenang dan meminta pada anak-anak untuk tidak ribut dan cekcok, jika saya berpulang.
Tiba-tiba saya ingat tentang kisah anak durhaka yang minta warisan untuk berfoya-foya, hingga akhirnya bertobat (Luk 15: 13).
Mungkinkah, begitu pula dengan anakku?
Sekali lagi saya menarik nafas panjang, tidak mau membayangkan hal itu. Lebih bijak saya berdoa dan berserah ikhlas. Saya percaya dan mengimani, bahwa Tuhan memberi yang terbaik.
Dengan menjalani dan bertekun dalam hidup doa, sejatinya menempa saya untuk taat dan setia kepada Tuhan. Tidak untuk yang lain!
…
Mas Redjo

