Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Hanya si kasih sayang
yang dapat melihat,
sedangkan kami buta”
(Seruan sang Kebenaran)
Manusia dan Kecenderungannya
Sejak awal mula penciptaan, bukankah kita sudah mendengar, membaca, dan mengetahui, bahwa manusia adalah makhluk ciptaan yang paling bergolak secara batiniah. Di dalam proses perkembangan dan peradaban dunia, manusia sempat dijuluki oleh filsuf Aristoteles sebagai ‘zoo politicon’ (makhluk yang selalu bersama bergerombol). Namun di sisi yang lain, sekaligus sebagai ‘seekor serigala bagi sesamanya’ (homo homini lupus) Thomas Hobbes.
Lewat konteks yang terkesan ekstrem ini, saya justru mau mendeskripsikan, sejatinya, memang manusia itu adalah makhluk yang suka mengumpulkan dan merindukan harta kekayaan, pangkat, serta kedudukan terhormat di dalam masyarakat.
Tiga Pria Berjanggut
Ketika seorang istri kembali ke rumahnya, didapatinya ada tiga orang pria berjanggut sedang duduk di halaman rumahnya.
Maka, diajaknya ketiganya agar masuk ke dalam rumahnya. Tapi seorang dari antara mereka bertanya, “Apakah suamimu berada di rumah?” Segera disahutinya, bahwa suaminya masih berada di luar rumah.
Ketika suami kembali ke rumah, maka diceritakannya perihal ketiga pria berjanggut di halaman rumah itu.
Maka, sang suami mengundang agar ketiganya boleh masuk ke dalam rumahnya.
Sang istri segera ke luar dan mengajak mereka untuk masuk. Tapi seorang dari mereka berkata, bahwa kami tidak bisa masuk bersama-sama.
Lalu salah seorang pria dari ketiga pria itu pun memperkenalkan diri, “Saya, adalah kekayaan. Dia ini, adalah kesuksesan, dan yang satu ini adalah kasih sayang.”
Istri itu kembali ke dalam rumah dan bercerita kepada suaminya, bahwa mereka tidak dapat masuk bersama-sama. Ketiganya adalah si kekayaan, kesuksesan, dan kasih sayang.
Maka, suami itu berkata, “Aku meminta agar si kekayaanlah yang lebih dulu masuk ke dalam rumah agar hidup kita berkelimpahan harta benda.”
Namun, pendapat itu justru ditolak oleh istrinya. “Undanglah kesuksesan itu, bukankah hidup kita kelak akan selalu bergelimang kesuksesan?”
Sedangkan anak, bocah yang mendengar perbedaan pandangan itu menyela, “Undanglah lebih dulu si kasih sayang, bukankah rumah kita kelak akan diselimuti kebahagian oleh kasih sayang?”
Mendengar saran cerdas dari bocah itu, mereka pun bersepakat.
Wanita itu segera ke luar dan mengundang si kasih sayang untuk mendahului memasuki rumah mereka. Namun, apa yang terjadi?
Ternyata, ketiganya justru bangun bersama-sama untuk masuk ke dalam rumah. Tapi istri itu berkata, “Aku hanya mengundang kasih sayang.” Tapi sahut keduanya, “Kami harus masuk bersama, karena kami berdua ini buta. Hanya kasih sayang yang dapat melihat.”
(Dari Berbagai Sumber)
Prinsip Hidup Sejati
Ternyata,
- Kasih sayang itu adalah kunci utama kehidupan. Artinya, jika kasih sayang telah mendahuluinya, maka kesuksesan dan kekayaan itu akan segera mengikutinya.
- Kekayaan serta eforia dari kesuksesan hidup ternyata dapat membutakan mata batin manusia.
Suara Bocah sebagai Pengajaran Hidup
Di balik kisah inspiratif dan filosofis ini, saya mau menyodorkan sebuah pemikiran, bahwa…
- Celakalah kita, jika di dalam kehidupan ini cenderung mengabaikan suara dan pendapat anak-anak kecil.
- Sesungguhnya kebahagiaan dan kesejahteraan hidup ini, tidak bergantung pada kekayaan materi dan kesuksesan hidup semata.
“Biarkan anak-anak ini datang kepada-Ku, karena merekalah yang memiliki Kerajaan Surga.”
(Amanat Sang Guru Agung)
…
Kediri, 27 Februari 2025

