Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
- Apa yang telah anda lakukan tidak dapat dibatalkan lagi!
- Matang-matanglah berpikir sebelum berbuat!
- Menyesal kemudian, tiada berguna!
Red-Joss.com | Saudara, tulisan kecil ini saya turunkan, bertolak dari pengalaman nyata hidupku. Ternyata, sangat sering dalam hidupku, saya melakukan kesalahan, kelak baru menyesal.
Semoga kisah unik dari negeri tirai bambu, Cina ini, dapat membuka cakrawala berpikir kita agar senantiasa bersikap arif di dalam hidup ini.
Jiang Tai Gong, hidup pada Dinasti Zhou Barat, (1046-771 SM). Dia sosok terpelajar sejak masa mudanya.
Dia, pribadi yang jujur dan tidak materialis. Ternyata, dia sangat menderita, karena banyak pegawai, rekan kerjanya yang suka korupsi.
Apa yang dilakukannya? Dia bersikap tegas. Dia mengundurkan diri karena tidak sudi turut mengorupsi. Dia dibenci dan bahkan dikucilkan. Sebagai pribadi idealis yang berani melawan arus, risikonya, dia pun sungguh menderita.
Akibat dari kemiskinannya, maka sang istrinya pun meninggalkan dia.
Namun, di usia tuanya, kariernya mulai menanjak kembali. Saat itu, dia membantu raja Wen dengan menempati posisi puncak.
Suatu hari, Jiang memancing di sungai Weishui dengan mata kail mengapung di atas air tanpa umpan. Tiga hari memancing, dia tidak mendapatkan ikan.
Namun Saudara, cara memancing yang aneh ini, justru sangat menarik perhatian publik. Kisah si pemancing goblok ini, ternyata sampai juga di telinga raja Wen.
Raja Wen sangat tertarik dengan tindakannya. Raja pun menyimpulkan, bahwa orang itu justru bukan orang goblok. Bahkan, dia orang bijak dan brilian.
Maka, raja Wen mengangkatnya menjadi pegawai tinggi, bahkan sebagai perdana menteri.
Nah, Saudaraku, di saat emas itu, mantan istrinya, datang dan memohon, agar kembali hidup bersama. Jian Tai Gong pun menolaknya.
Apa yang diperagakannya? Diambilnya sebaskom air, di depan mantan istrinya, lalu dia menumpahkan air ke atas lantai, dan berkata, “Dapatkah kamu, menghimpunkan kembali air yang telah tumpah?”
Maka, pergilah mantan istrinya dengan sedih serta penuh penyesalan.
Marilah kita belajar dari kisah unik ini. Pernahkan Anda dan saya mengalami peristiwa serupa ini? Kakek kita dulu, juga sering berpesan, agar anak cucunya berpikir matang sebelum bertindak. Karena semua penyesalan, biasanya, selalu berdiri di ujung barisan.
“Nasi telah membubur,” petuah bangsa kita.
“Sepatah kata yang telah diucapkan, sekelompok kuda pun sulit mengejarnya!”
…
Kediri,ย 3ย Aprilย 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

