Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“O Tempora, โฆO Mores“
(Duhai Waktu, Duhai Kehidupan)
…
|| Red-Joss.com | Waktu, oh sang waktu! Ada keluhan, “Maaf, aku keburu waktu.” atau “Maaf, ternyata, aku kehabisan waktu.”
Sungguh penting dan bermanfaatkah sang waktu? Orang Latin pun, sampai punya adagium, “hora pecunia est” “waktu adalah uang.”
Nyata, saudara, bahwa sang manusia itu hidup, bergerak, dan ada justru di dalam lingkaran garis alur sang waktu.
Filsuf santo Agustinus, yang hidup pada awal abad pertengahan pun bertutur, “Ada dua macam waktu. Ada waktu subjektif dan ada waktu objektif.”
Apa itu? Waktu ‘subjektif,’ maksudnya, waktu yang yang hanya ada, dan kita rasakan di dalam batin kita. Sedangkan waktu ‘objektif,’ adalah waktu yang menyangkut, tempat atau saat, jam, hari, bulan, tahun, dan bahkan abad. Jadi, secara subjektif, keduanya memang sama. Tetapi secara objektif, keduanya berbeda.
Filsuf Emanuel Kant dan ilmuwan Albert Einstein berpendapat, sang waktu itu terikat dengan ruang, dan itu bagian dari pikiran manusia. Maka, untuk sementara dapat disimpulkan, bahwa pandangan ‘subjektif’ santo Agustinus, soal waktu, ternyata sama dengan pandangan filsuf Emanuel Kant dan Ilmuwan Albert Einstein.
Selanjutnya, filsuf santo Agustinus, saat ditanya seorang ahli astronomi, berpendapat, “Jika orang tidak bertanya, apa itu waktu, maka aku tahu, jawabannya. Tetapi, jika orang bertanya, apa itu waktu, maka aku tidak tahu.”
Sedangkan sang maestro sastrawan, Kahlil Gibran berpendapat, “Waktu itu, adalah sebutir cinta, yang tak dapat diukur dan dibagi.โ Maka, baginya, ‘waktu itu adalah suatu rangkaian saat kronologis.’
Sedangkan bagi Malik Bennabi, “Sang waktu itu bagaikan sungai yang mengalir sepoi ke seluruh penjuru wilayah.โ Baginya, jika sang waktu itu memang sudah mengalir laksana air, maka sang manusia tidak mungkin tahu, kapan sang waktu itu dan kapan sang waktu berlalu.
Saudaraku, bagaimana pandangan kita yang hidup saat ini, kini, di zaman mutakhir ini?
Nyata, secara objektif, kita, sang manusia ini, hidup, bergerak, serta berada di dalam relung lingkaran sang waktu. Peristiwa kelahiran, perjuangan hidup, serta kematian, toh secara riil semuanya terjadi dan berlangsung di dalam waktu secara objektif lewat helai-helai kalender tahunan.
Senantiasa bersyukurlah, karena secara rohani spiritual, sang waktu itu adalah seberkas rahmat yang mengalir tiada henti (gratia dei).
Kediri,ย 13ย Aprilย 2023

